Radarjombang.id – Dr Ir Emmy Hamidah MP memiliki cita-cita menjadi dokter.
Namun takdir berkata lain, kini Emmy Hamidah, justru menyandang gelar doktor di bidang agribisnis pertanian.
Perjalanan panjangnya membuktikan bahwa kegagalan meraih satu mimpi bisa membuka jalan menuju pencapaian yang lebih luas.
Lahir di Jombang, Emmy menempuh pendidikan dasarnya di SDN Banjarsari, Kecamatan Bandarkedungmulyo (1979).
Lalu melanjutkan ke SMPN 1 Jombang (1983), dan SMA Muhammadiyah 1 Jombang (1986). Semula ia bercita-cita masuk kedokteran, namun akhirnya memilih jalur pertanian di Universitas Kadiri, jurusan Agribisnis, dan lulus pada 1991.
Setelah lulus S1, Emmy mengambil kursus Bahasa Inggris selama enam bulan di Pare, lalu mengikuti tes CPNS dosen di Kopertis Wilayah 7 atau sekarang menjadi LLDIKTI Wilayah VII Surabaya kemudian Februari 1993 diangkat menjadi PNS.
Tak berhenti di situ, Emmy terus melanjutkan pendidikan. Gelar magister diraih di Universitas Padjadjaran Bandung pada 1997, dan doktor di Universitas Sebelas Maret Solo tahun 2022.
Keduanya melalui Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPPDN). ”Sebagai dosen, S3 itu tuntutan profesi. Tapi bagi saya juga penting untuk perempuan. Perempuan harus mandiri, cerdas, dan berwawasan luas. Tidak hanya pintar di dapur,” ujarnya.
Karier Emmy dimulai saat ia diangkat sebagai PNS pada 1993 di Fakultas Pertanian Universitas Islam Darul Ulum Lamongan. Selama 32 tahun mengabdi, ia pernah menjabat Dekan Fakultas Pertanian (2016–2018).
Selain sibuk di kampus, Emmy juga aktif berorganisasi, antara lain sebagai Bendahara LKK PWNU Jawa Timur, Sekretaris Majelis Ta’lim Perempuan IPHI Jombang, serta Ketua Komite MAN 10 Jombang.
Menurutnya, pendidikan sangat penting untuk perempuan, sebagai sarana pengembangan diri.
Sebab, perempuan tidak melulu hanya berkutat dengan urusan rumah tangga. ”Perempuan harus mandiri, sehingga setelah ada kesempatan untuk menempuh S3 saya ambil saja,” jelasnya.
Ibunya guru, ayahnya seorang pegawai Depag dan merangkap sebagai anggota DPRD Jombang Fraksi Golkar, Emmy yang kini melanjutkan perjuangan sang ibu di bidang pendidikan.
”Bedanya ibu saya guru, saya dosen, sama-sama berjuang di jalan pendidikan,” kata putri kedua dari enam bersaudara itu.
Di balik kesibukannya, Emmy tetap memegang teguh prinsip seorang pendidik. ”Jadi dosen itu bukan sekadar profesi, tapi tanggung jawab dunia dan akhirat. Kalau mengajar ya harus sungguh-sungguh.
Saya juga sangat jarang izin, waktu mengajar ya mengajar, menikmati profesi dengan enjoy, itu komitmen saya,” tegasnya. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto