Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Setitik Cahaya yang Mulai Padam

R
Penulis: Rojiful Mamduh❯
Oleh: Shafa
Oleh: Shafa' Lathifah Kayyisah, Kelas 8 SMPT Al-Chodidjah Tebuireng

Advertisement

 

 

     Di sebuah desa terpencil di antara dua gunung raksasa, terdapat sebuah desa yang disebut Desa Kabut. Sesuai namanya, desa ini diselimuti oleh kabut abadi. Cahaya hanya bertahan dalam waktu empat jam dalam dua hari. Warga desa sudah terbiasa oleh kehidupan yang dipenuhi bayang-bayang dan cahaya yang redup. Bergerak seperti hantu. Menggunakan indra pendengaran dan peraba yang lebih tajam dari pada penglihatan. Mereka tidak takut pada kegelapan. Hanya saja kegelapan di luar lebih mengerikan dari yang mereka kira.

Advertisement

 

        Suatu hari desa ini mengalami kegelapan total, karena sumber energi satu-satunya yang dimiliki desa (sebuah generator tua bertenaga air terjun) rusak. Desa itu diselimuti oleh kegelapan. Harapan para warga desa agar bisa keluar dari tempat ini pun hilang. Lampu-lampu minyak yang mereka andalkan mulai kehabisan bahan bakar karena pasokan dari luar tak kunjung datang.

Seorang gadis bernama Lumie teringat  cerita kakeknya tentang kristal embun. Kristal yang berada di gua tertinggi yang konon bisa menyerap sinar matahari. Lalu memancarkan cahaya saat kegelapan menyelimuti wilayah tersebut.

Advertisement

 

     ’’Lumie, jangan pergi…’’ ucap salah satu tetua. Namun Lumie melihat adik adik nya mulai sakit karena kurangnya sinar matahari. Berbekal lentera yang apinya mulai meredup, Lumie mendaki. Perjalanan itu sunyi dan menakutkan. Setiap kali angin bertiup, api lenteranya bergoyang hebat, mengancam akan padam. Di tengah jalan, lenteranya benar-benar mati. Lumie terduduk di tanah yang dingin, dikelilingi kegelapan total. Lumie merasa cahaya harapan dalam dirinya ikut padam.

 

      Dalam keheningan itu, ia melihat sesuatu. Bukan di atas, tapi di bawah kakinya. Seekor serangga kecil, mungkin sejenis kunang-kunang yang tersesat mengeluarkan cahaya kuning pucat yang sangat lemah. Lumie menatap kunang-kunang kecil itu tanpa berkedip. Cahaya yang dipancarkannya sangat redup, bahkan hampir tenggelam oleh kabut pekat di sekitarnya. Namun di tengah kegelapan total, cahaya sekecil itu terasa seperti bintang. Kunang-kunang itu terbang perlahan, berputar di depan Lumie seolah mengajaknya bangkit. Lumie mengulurkan tangan gemetar.

Advertisement

Artikel Terkait

Tiga Tahun Tak Tuntas, Sertifikat 48 Bidang Tanah Warga Kedawong Terdampak Irigasi Pariterong

Tiga Tahun Tak Tuntas, Sertifikat 48 Bidang Tanah Warga Kedawong Terdampak Irigasi Pariterong

JOMBANG – Pemecahan sertifikat tanah warga terdampak proyek Irigasi Pariterong (Papar–Turi–Peterongan) tak kunjung tuntas. Hingga mendekati akhir 2026, belum ada kepastian penerbitan sertifikat baru. Akibatnya, Pemerinta

Posyandu Kini Jadi Pusat Layanan Masyarakat, Puskesmas Cukir Jombang Perkuat Pembinaan Kader

Posyandu Kini Jadi Pusat Layanan Masyarakat, Puskesmas Cukir Jombang Perkuat Pembinaan Kader

Posyandu kini tak lagi hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan ibu dan anak. Melalui penerapan enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM), perannya diperluas menjadi pusat pelayanan masyarakat yang melibatkan berbagai

Blangko e-KTP Sering Langka, Pemkab Jombang Siapkan Anggaran Rp 1,3 Miliar

Blangko e-KTP Sering Langka, Pemkab Jombang Siapkan Anggaran Rp 1,3 Miliar

Pasokan blangko KTP elektronik (e-KTP) dari pemerintah pusat belum mampu memenuhi kebutuhan pencetakan di Jombang secara konsisten. Untuk mengantisipasi kekurangan tersebut, Pemkab Jombang menyiapkan anggaran

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer