JOMBANG — Semangat baru mulai dibangun MTsN 18 Jombang di Desa Randuwatang, Kecamatan Kudu. Kepala yang baru, Agus Arif SAg SPd MMPd, membawa visi kepemimpinan yang menekankan pelayanan, keteladanan, dan penguatan mutu pendidikan berbasis nilai keislaman.
Agus dilantik 21 April 2026. Baginya, jabatan kepala madrasah bukan hanya posisi administratif.
”Jabatan adalah amanah. Kepala madrasah harus hadir untuk melayani, membina, dan memberi teladan,” katanya.
Agus lahir di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, 2 Maret 1979. Mengawali pendidikan di MI Mistahussaadah Desa Winong, Kecamatan/Kabupaten Pati. Kemudian melanjutkan ke MTsN 1 Pati dan MAN Lasem (sekarang MAN 2 Rembang).
Dia menempuh pendidikan tinggi di Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Darul Ulum Jombang dan Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Serta meraih gelar magister di STIE Indonesia Malang.
Agus kini tinggal di Desa Plosogeneng, Kecamatan Jombang bersama istrinya, Nurul Kasiani SPdI, serta keempat anaknya.
Mengawali karier sebagai CPNS pada 2007, Agus dikenal memiliki pengalaman panjang di lingkungan madrasah. Ia pernah menjabat staf kesiswaan, wakil kepala humas, wakil kepala kesiswaan, wakil kepala kurikulum, hingga wakil kepala litbang MAN 6 Jombang. Sebelum dipercaya memimpin MTsN 18 Jombang.
’’Saya sejak 2000 atau masih GTT (guru tidak tetap) itu di MAN 6, sampai akhirnya diangkat sebagai kepala madrasah (MTsN 18) 2026,’’ imbuhnya.
Selain aktif dalam manajemen pendidikan, ia juga terlibat dalam peningkatan kompetensi guru di tingkat Jawa Timur.
Di antaranya, sebagai fasilitator daerah, penulis modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) guru dan tenaga kependidikan. Penulis soal AKMI (Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia), hingga instruktur visitasi tindak lanjut hasil AKMI.
Dalam kepemimpinannya, Agus menegaskan pentingnya membangun budaya kerja yang sehat dan profesional. Ia ingin seluruh guru dan pegawai merasa dirangkul tanpa adanya sekat kelompok.
Baca Juga: Sosok Dr Ika Lusi Kristanti, Dosen UPJB yang Dedikasikan Diri Sebagai Pendidik Inspiratif
”Kepala madrasah tidak boleh membangun kelompok dekat dan kelompok jauh. Semua harus dihargai sesuai perannya,” katanya.
Ia juga menaruh perhatian besar terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Penguatan literasi, pembinaan karakter islami, pengembangan prestasi siswa, hingga pemanfaatan teknologi pendidikan menjadi fokus yang ingin dikembangkan di MTsN 18 Jombang.
’’Seluruh kebijakan madrasah harus berpihak pada kepentingan siswa,’’ ungkapnya. Karena itu, setiap program yang dijalankan harus benar-benar memberi dampak positif bagi perkembangan peserta didik.
”Pertanyaan utama sebelum membuat kebijakan itu, apakah ini baik untuk perkembangan anak-anak,” ujarnya.
Agus menilai keteladanan menjadi kunci utama dalam memimpin lembaga pendidikan. Disiplin waktu, santun dalam berbicara, menjaga kebersihan, hingga aktif dalam ibadah berjamaah dinilai lebih efektif daripada sekadar instruksi.
Baginya, kepala madrasah bukan hanya pemimpin administratif, tetapi juga pemimpin spiritual. Karena itu, budaya doa bersama, salat Duha, istighotsah, dan membangun suasana religius akan terus diperkuat di lingkungan madrasah.
”Warisan terbaik kepala madrasah bukan kekuasaan, melainkan budaya disiplin, guru yang berkembang, siswa berakhlak, dan lingkungan pendidikan yang nyaman serta Islami,” tegas pria yang juga menjabat Ketua RT 01 dan Sekretaris RW 08 Dusun Plosogerang, Desa Plosogeneng, Kecamatan Jombang ini. (fid/jif)
Editor : Anggi Fridianto