Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kasus Olok-Olok Gus Miftah ke Pedagang Es Berbuah Cancel Culture, Ini Pengertian dan Dampaknya

Achmad RW • Kamis, 5 Desember 2024 | 15:03 WIB
video viral Gus Miftah yang dinilai mengolok-olok pedagang es teh saat pengajian
video viral Gus Miftah yang dinilai mengolok-olok pedagang es teh saat pengajian

RadarJombang.id - Kasus video viral Gus Miftah olok olok pedagang es teh bernama Sunhaji saat pengajian jadi sorotan netizen dan warga Indonesia.

Kejadian ini, dimulai ketika video Gus Miftah mengolok-olok seorang pedagang es teh bernma Sunhaji di suatu pengajian viral di media sosial.

Video tersebut menampilkan Gus Miftah yang mengucapkan kata-kata yang dianggap merendahkan pedagang es teh tersebut misalnya dengan sebutan 'goblok'.

Reaksi publik terhadap video ini sangat negatif, dengan banyak netizen yang mengkritik Gus Miftah dan meminta agar ia meminta maaf.

 

Apa itu Cancel Culture?

Cancel culture adalah fenomena budaya di mana seseorang yang dianggap telah bertindak atau berbicara tidak pantas, diasingkan, diboikot, atau bahkan dipecat, sering kali dengan bantuan media sosial.

Fenomena ini biasanya melibatkan penarikan dukungan secara massal dari figur publik atau selebriti yang melakukan sesuatu yang tidak diterima oleh masyarakat saat ini.

Cancel culture berasal dari fenomena call-out culture yang muncul di awal 2010-an, di mana orang menggunakan media sosial untuk menyoroti dan mengkritik perilaku atau pernyataan seseorang yang dianggap tidak pantas.

Istilah "cancel culture" sendiri pertama kali muncul pada akhir 2010-an dan awal 2020-an.

Asal-usulnya bisa ditelusuri kembali ke sebutan "cancel" dalam bahasa slang Amerika yang merujuk pada pemutusan hubungan.

Istilah ini pertama kali muncul dalam sebuah lagu tahun 1980-an berjudul "Your Love Is Cancelled" oleh band Chic.

Dalam film tahun 1991 "New Jack City," ada referensi kepada seorang wanita yang "dicancel" oleh pasangannya⁽¹⁾.

Pada tahun 2015, istilah ini menjadi populer di Black Twitter untuk merujuk pada keputusan pribadi untuk tidak lagi mendukung seseorang atau karya mereka.

Dengan perkembangan teknologi dan popularitas media sosial, fenomena ini semakin umum dan cepat berkembang.

Cancel culture sering kali melibatkan online shaming yang menarik perhatian publik luas terhadap pernyataan atau tindakan provokatif dari seseorang, yang kemudian diikuti oleh reaksi marah secara luas.

Kejadian Gus Miftah dan Fenomena Cancel Culture

Video viral olok-olok Gus Miftah kepada pedagang es teh itu itu langsung memancing reaksi negatif dari publik mencerminkan bagaimana cancel culture bekerja.

Media sosial menjadi platform utama di mana masyarakat dapat mengekspresikan ketidaksetujuan mereka secara massal.

Dalam kasus ini, banyak orang menggunakan media sosial untuk menyoroti tindakan Gus Miftah dan meminta agar ia dihancurkan atau "dicancel" dari posisi publiknya.

Dampak dari cancel culture ini sangat besar bagi Gus Miftah.

Setelah mendapat banyak kritik, Gus Miftah akhirnya meminta maaf secara terbuka kepada pedagang es teh yang dihinanya.

Selain itu, ia juga menerima teguran dari berbagai pihak, termasuk dari Istana Kepresidenan dan Partai Gerindra.

Teguran ini menunjukkan bahwa tindakan Gus Miftah tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diharapkan oleh masyarakat dan pihak berwenang.


Kasus ini juga membuka ruang refleksi tentang hierarki sosial dan bagaimana masyarakat merespons ketidakadilan simbolik.

Penjual es teh dalam isu ini menjadi simbol kaum lemah yang rentan terhadap eksploitasi dan olok-olok oleh mereka yang berada di posisi atas.

Sikap Gus Miftah menggambarkan bagaimana kuasa sering kali disalahgunakan dalam bentuk dominasi verbal.

Respons publik terhadap insiden ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga martabat manusia.

Cancel culture dalam kasus Gus Miftah dan pedagang es teh bernama Sunhaji menunjukkan bagaimana tindakan atau pernyataan yang dianggap tidak pantas dapat memicu reaksi negatif yang luas dari masyarakat.

Fenomena ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya empati dan penghormatan terhadap sesama dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan beradab. (riz)

Editor : Achmad RW
#Pedagang Es Teh #Sunhaji #cancel culture #olok olok #viral #Gus Miftah #Pengertian