Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Pipa PVC Jadi Lampu Hias Indah

Rojiful Mamduh • Selasa, 15 Juni 2021 | 01:39 WIB
BANYAK cara yang bisa dilakukan untuk membuat benda yang dianggap samp
BANYAK cara yang bisa dilakukan untuk membuat benda yang dianggap samp

BANYAK cara yang bisa dilakukan untuk membuat benda yang dianggap sampah menjadi bernilai jual. Seperti yang dilakukan Nur Fauzi, warga Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam. Sampah pipa, ditangannya diubah jadi lampu hias yang bernilai jual tinggi.


Di kediamannya, banyak ditemukan pipa PVC yang sudah terpotong. Jika masih dalam bentuk pipa, memang terlihat biasa saja. Namun di sudut rumahnya yang lain, pipa-pipa ini telah berubah menjadi lampu hias. ’’Ini hasil karya saya, sudah beberapa tahun belakangan ini,” ucapnya.


Seluruh proses pembuatan lampu pipa ia lakukan sendiri. Prosesnya, dimulai dari memotong pipa menjadi bentuk panjang. Ukurannya bebas, sesuai keinginan dan pesanan yang datang. ’’Pipa yang digunakan biasanya ukuran empat inchi,’’ lanjutnya.


Ukuran itu disebutnya cukup pas untuk digunakan sebagai lampu hias. Tak terlalu besar, lebih mudah dihias dan dibentuk.


’’Pipa ukuran empat inchi lebih enak dipakai. Kalau lebih besar pembuatannya lebih lama. Kalau terlalu kecil lebih sulit diukir,’’ sambungnya.


Setelah menyiapkan bahan pipa paralon, ia menyiapkan gambar sketsa yang diprint diatas kertas. Kertas berisi gambar itu kemudian ditempel pada pipa dan mulai diukir. Ia menggunakan gerinda kecil untuk membentuk ukiran-ukiran pada pipa.


Setelah pola ukiran terbentuk, ia mulai membuat pola timbul. Proses ini dilakukan dengan memanaskan pipa yang telah diukir dan menekuknya sesuai arah yang diinginkan. Beberapa menit, pekerjaan pun rampung.


’’Dua proses ini sangat menentukan hasil. Jadi harus dilakukan dengan hati-hati,’’ bebernya. Salah ukir atau terlalu keras menekuk bisa patah. Kalau sudah patah harus dibuang, tidak bisa dipakai lagi.


Proses selanjutnya pengecatan. Fauzi biasanya menggunakan dua teknik untuk memberi warna pada lampu hias.


’’Bisa pakai cat semprot atau pakai kuas biasa,’’ imbuhnya. Setelah kering, ia mulai merangkai bagian utamanya. Yakni lampu, seluruh kabel dan aksesorisnya.


’’Lampunya pakai LED warna warni biar lebih menarik,’’ lontar pria 39 tahun ini.


Dia bisa membuat lampu hias hingga 10 buah dalam sehari. Hasil karyanya ini biasa dijual dengan harga Rp 60 ribu hingga Rp 200 ribu.


Editor : Rojiful Mamduh