JOMBANG - Dibanding sepuluh tahun lalu, jumlah tanaman pandan saat ini lebih sedikit. Kondisi ini terjadi akibat maraknya alih fungsi lahan, dari sebelumnya yang berupa hutan menjadi area perkebunan.
Ma’rifah, 60, salah satu perajin tikar Desa Katemas, Kecamatan Kudu, mengaku sudah kesulitan mencari daun pandan untuk bahan baku produksi tikar sejak tiga tahun terakhir. “Sekarang di hutan sudah tinggal sedikit, karena diganti dengan tanaman lain. Ada orang yang menanam pandan di belakang rumah, tapi sangat sedikit,” lanjutnya.
pilihan terakhir, perajin terpaksa membeli pandan yang ditanam warga tersebut sebagai tambahan bahan baku. Akibatnya, kata Ma’rifah, biaya produksi jadi semakin membengkak. “Kalau sudah jadi, tikar besar dijual 10 ribu rupiah saja. Murah sekali,” keluhnya. Padahal untuk membuat satu tikar saja, butuh waktu paling cepat dua hari.
Sementara tingkat permintaan tikar tradisional berbahan dasar pandan, saat ini tidak lagi besar. “Satu minggu bisa jual tiga lembar tikar pandan itu sudah sangat bagus,” tambahnya. Selain menjadi pengrajin tikar pandan, warga juga ada yang bekerja sebagai pedagang dan buruh tani. Sebab usaha kerajinan tikar pandan tidak bisa menjadi tumpuan utama penghasilan keluarga.
’’Sejak ada tikar buatan pabrik dan karpet, tikar pandan jarang diminati,” pungkasnya. Meski demikian, para perajin ini tetap akan bertahan menjalankan usaha. Selain untuk mempertahankan tradisi, produksi tikar pandang juga tetap harus dijalankan karena punya segmen pasar khusus. “Kalau ada orang meninggal, selalu butuh tikar pandan,” pungkasnya.
Sementara itu tikar tradisional berbahan baku daun pandan hasil produksi masyarakat utara Brantas, pengiriman ke luar daerah harus menggunakan kendaraan umum. Sebab para perajin hampir semuanya tidak memiliki mobil sendiri. Mereka biasanya membawa tikar pandan dari rumah menuju jalan raya. Seperti yang biasa dilakukan para perajin asal Desa Kauman, Kecamatan Kabuh.
Puluhan lembar tikar pandan yang tiba di perempatan Kabuh, dikirim menggunakan jasa angkutan umum . Tikar dijual ke kota karena lebih menguntungkan, terutama dari sisi waktu penjualannya. Sipah, 65, salah satu penjual, menyebut per lembar tikar ukuran besar dibandrol dengan harga Rp 50 ribu. Namun karena tikar dipesan tengkulak, bandrolnya diturunkan menjadi Rp 35 ribu per lembar.
’’Tikar ini dibeli tengkulak, jadi bukan saya yang menjual. Tengkulaknya sendiri yang menjual di depan Gientjang (toko emas), tengkulaknya setiap hari tidur di pinggir jalan. Ke Jombang naik lin karena memang tidak punya mobil,” ungkap Sipah kepada Jawa Pos Radar Jombang. Dari puluhan lembar tikar yang dikirim ke kota, menurut Sipah rata-rata butuh waktu tiga sampai tujuh hari untuk bisa laku.
Sementara waktu yang dibutuhkan untuk membuat tikar sejumlah itu, kata Sipah paling cepat adalah 10 hari. “Tidak mampu kalau mengerjakan sendiri, jadi harus pakai tenaga orang lain,” lanjutnya. Risiko karena menggunakan tenaga orang lain, menurutnya adalah biaya operasional yang semakin besar.
Sementara nilai jual tikar dari tahun ke tahun cenderung mengalami penurunan. “Lebaran tahun lalu masih 65 ribu per lembar, tahun ini turun menjadi 50 ribu,” tambah Sipah. (*)
Editor : Binti Rohmatin