Saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (8/5), Direktur Ma'had 'Aly MQ Tebuireng, Dr H Syukron Makmun LC, menjelaskan Islam itu mudah. ’’Islam itu agama yang mudah. Jangan dipersulit dan jangan diremehkan,’’ tuturnya.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Hajj ayat 78: Dan Dia tidak menjadikan kesempitan untukmu dalam agama.
Juga di Surat Al-Baqarah 185. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya agama ini mudah.
Rasulullah juga bersabda: Permudahlah dan jangan mempersulit.
Islam memberikan rukhsah (keringanan) kepada orang sakit untuk salat sambil duduk. Musafir boleh mengqasar salat. Bahkan orang yang tidak mampu menggunakan air diperbolehkan tayamum. Semua ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Bahkan saat terancam mati kita boleh makan sesuatu yang haram.
Sayyidah Aisyah radiyallahu anha berkata: Rasulullah tidak pernah memilih antara dua perkara kecuali beliau memilih yang paling mudah selama bukan dosa.
Ini mengajarkan Islam tidak dibangun di atas penyiksaan diri. Ibadah harus dilakukan dengan penuh keseimbangan dan sesuai tuntunan syariat.
Walaupun Islam itu mudah, Rasulullah melarang sikap berlebihan (ghuluw) dalam beragama. Nabi bersabda: Hancurlah orang-orang yang berlebih-lebihan.
Abdullah bin Amr bin Ash pernah beribadah sangat keras; siang hari selalu puasa dan malam hari terus salat. Rasulullah menegurnya dan bersabda: Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.
Diriwayatkan ada tiga orang sahabat datang dan bertanya tentang ibadah Rasulullah. Setelah mendengarnya, mereka merasa ibadahnya masih sedikit. Salah satu berkata akan salat malam terus tanpa tidur, yang lain akan puasa terus, dan yang lain tidak akan menikah. Rasulullah lalu bersabda:
Aku berpuasa dan berbuka, aku salat dan tidur, dan aku menikahi wanita. Barang siapa membenci sunnahku maka bukan termasuk golonganku.
Ini menjadi pelajaran bahwa semangat ibadah harus dibimbing ilmu dan keseimbangan.
Sebagian orang salah memahami ’’Islam itu mudah’’ lalu menggampangkan kewajiban. Salat ditinggalkan, aurat diabaikan, dan maksiat dianggap biasa. Ini juga sikap yang keliru.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-An’am 91. Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.
Umar bin Khattab radiyallahu anhu pernah berkata: Ikatan Islam akan lepas satu demi satu ketika muncul generasi yang tidak mengenal jahiliah.
Artinya, ketika manusia mulai meremehkan dosa dan syariat, maka perlahan agama akan hilang dari kehidupan mereka.
Imam Malik sangat memuliakan hadis Nabi. Ketika hendak mengajar hadis, beliau mandi, memakai pakaian terbaik, dan duduk penuh hormat. Saat ditanya mengapa demikian, beliau menjawab bahwa beliau sedang memuliakan sabda Rasulullah.
Kisah ini menunjukkan bahwa agama tidak boleh dianggap enteng. Syariat harus dihormati dan dijaga adabnya.
Islam agama pertengahan. Tidak ekstrem kanan dan tidak ekstrem kiri. Tidak mempersulit hingga menyiksa diri, dan tidak pula meremehkan hingga meninggalkan kewajiban.
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: Agama Allah berada di tengah antara berlebih-lebihan dan meremehkan.
Nabi bersabda; Amal yang paling dicintai Allah yakni sedikit tapi istiqamah. Amal kecil tetapi terus-menerus lebih dicintai Allah daripada amal besar namun terputus.
(jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto