Lokasi masjid cukup tersembunyi, lantaran berada di lingkungan gang. Jaraknya dengan jalan kebupaten sekitar 500 meter. Meski begitu, keberadaan masjid cukup mudah ditemukan, salah satunya dari bangunan kubah masjid yang besar serta ditambah menara yang tinggi. ”Renovasi terakhir dikerjakan 1993,” kata Soleh, pengurus masjid saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang (16/2).
Soleh menjelaskan, saat pertama kali dibangun sekitar tahun 65-an, bentuknya masih musala kayu. Luas bangunan juga cukup sempit. ”Dulu bangunnya ini pada saat ramai-ramainya G30S PKI,’’ lanjutnya.
Baru sekitar tahun 90-an, fungsi musala dialihkan menjadi masjid. Saat itu warga terdorong membangun masjid lantaran masjid lama di dusun itu, tak lagi mampu menampung jamaah salat Jumat. ”Karena jamaah semakin banyak musala diubah,’’ imbuhnya.
Masjid dibangun sederhana dengan gaya bangunan khas tahun 90-an. Bangunan yang awalnya musala dirombak total. Bangunan diperluas hingga ke arah barat. ’’Ada tambahan di bagian depan dan kubah masjid,” katanya.
Sebelumnya bangunan kubah hanya berukuran kecil. Sekarang berukuran besar. ”Ada lima kubah di atas. Yang tengah berukuran besar yang pinggir-pingir berukuran kecil,” tuturnya.
Masjid juga memiliki bangunan menara yang cukup tinggi yang digunakan untuk memasang pengeras suara. ”Speaker dipasang di tempat yang tinggi agar suara azan terdengar dengan jelas,” bebernya
Meski dirombah secara menyeluruh, bangunan utama masjid tidak diubah sama sekali. ”Bangunan yang dalam itu tetap. Musala dulu ya seukuran itu. Hanya bagian serambi yang ditambah agar lebih lebar,” pungkas Soleh.
Isra Mikraj Banyak Kegiatan Keagamaan
SELAIN digunakan jamaah salat lima waktu, Masjid Miftahul Jannah juga selalu ramai dengan kegiatan keagamaan. Seperti momentum memperingati Isra Mikraj seperti sekarang ini, kegiatan di masjid cukup padat.
”Kemarin sudah dilakukan pengajian yang dilakukan warga sekitar,” ujar Rupai pengurus masjid lainnya.
Dirinya menambahkan, setiap Kamis juga dilakukan kegiatan yasinan rutin yang diikuti para jamaah Masjid Miftahul Jannah. ”Nanti malam (kemarin, Red) ada ngaji Yasin,” ungkapnya. Sedangkan, pada saat Isra Mikraj akan dilakukan salawatan bersama. Hal ini memang menjadi tradisi sejak lama. Sehingga, kegiatan ini rutin dilakukan. ”Nanti juga ada rebana,” bebernya.
Dikatakannya, meski masjid ini tidak berada di pinggir jalan raya, masjid ini juga sering jadi jujukan banyak orang. ”Banyak yang suka beristirahat di masjid sambil menunggu waktunya salat,” pungkasnya. (yan/naz/riz) Editor : Achmad RW