Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cerita Petani Jombang yang Dapat Banyak Cuan Dari Bertani Bayam

Anggi Fridianto • Jumat, 29 September 2023 | 13:24 WIB
Juwadi, 49 petani bayam di Desa Bakalan, Kecamatan Sumobito Jombang saat merawat tanamannya kemarin.
Juwadi, 49 petani bayam di Desa Bakalan, Kecamatan Sumobito Jombang saat merawat tanamannya kemarin.

 

JOMBANG - Musim kemarau dimanfaatkan sebagian petani di Desa Bakalan, Kecamatan Sumobito, dengan mencoba peruntukan menanam bayam.

Selain panen lebih cepat, budi daya bayam yang diambil bijinya ini cukup menguntungkan.

Hamparan lahan di Desa Bakalan tampak segar siang itu. Bukan tanaman jagung ataupun padi, melainkan hamparan tanaman sayur bayam.

Di tengah lahan, ada sejumlah buruh tani yang tampak sibuk mencabuti gulma. Ya, di musim kemarau, sejumlah petani beralih budi daya bayam.

”Hampir setiap tahun saya tanami bayam,’’ ujar Juwadi, 49, salah seorang petani bayam kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin.

Menurutnya, budi daya tanaman bayam bukan hanya untuk memanen daun sebagai sayur. Namun dilakukan untuk mamanen biji bayam.

Terlebih, permintaan bibit bayam cenderung naik. ”Ya sayurnya bisa untuk sendiri, tapi kita budi daya bayam untuk bijinya yang dijual ke tengkulak,’’ tambahnya.

Saat ini, harga biji bayam per kilogram dihargai antara Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu. Padahal tahun lalu harganya sekitar Rp 18 ribu.

”Memang lebih menguntungkan bijinya. Untuk perputaran ekonomi lebih bisa diandalkan,’’ jelas dia.

Juwadi mengaku, biji bayam dapat dipanen kurang lebih saat usia 70 hari.

Rentang waktu itu lebih cepat dibandingkan tanaman padi dan jagung.

Selain itu, perawatan bayam juga lebih mudah. Petani cukup menyirami lahan sekitar seminggu sekali.

”Apalagi bayam juga jarang ada serangan hama seperti tikus dan lainnya,’’ jelasnya lagi.

Di lahan seluas 1.400 meter persegi, Juwadi bisa memanen 220 kilogram biji bayam di setiap musimnya.

Namun, biji itu tidak bisa langsung dijual setelah dipanen. ”Diproses dulu dengan perontok, kemudian di jemur baru setelah itu dijual,’’ papar dia.

Dalam sekali panen, dia bisa mendapat omzet mencapai sekitar Rp 7,7 juta.

Namun omzet itu itu belum dipotong biaya perawatan sekitar Rp 1 juta per sekali tanam.

”Perawatan kisaran Rp 1 juta, untuk irigasi dan pemupukan,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)

 

 

 

 

 

Editor : Achmad RW
#petani #bayam #sawah #Jombang #cuan