RadarJombang.id - Muhammad Hanif Syarifudin, pemuda warga Dusun Medan Bakti, Desa/Kecamatan Sumobito Jombang merupakan salah satu mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo Mesir.
Tidak mudah ia mewujudkan mimpinya untuk kuliah di Mesir, ia pernah gagal tes, merantau belajar Alquran hingga menjadi marbot masjid untuk mengisi kekosongan waktunya sebelum kuliah.
”Alhamdulillah saat ini semua sudah terwujud, tinggal menjalaninya dengan sebaik mungkin,” ungkap warga yang saat ini tinggal di jalan Al Fawatim, Flat 12, Al Gamalia, Kairo tersebut.
Tamat SDIT Al Mishbah Sedamar, Kecamatan Sumobito, Hanif melanjutkan pendidikannya di Ponpes YTP Kertosono sampai tamat jenjang SMA.
Saat ini Hanif menjadi mahasiswa aktif di Universitas Al Azhar Mesir melalui beasiswa LPPD (lembaga pengembangan pesantren dan diniyah) dan di bawah naungan Pemprov Jatim.
Kuliah di Mesir merupakan cita-cita Hanif sejak masih menjadi santri di Kertosono.
”Saya memang dari kecil punya cita-cita jadi ustad, ketika mondok sering lihat banner ucapan selamat kepada santri yang diterima di Universitas Al Azhar Kairo, dari situlah saya semakin ingin kuliah di Mesir,” ungkapnya.
Saat ini putra pasangan Ridlwan dan Lilik Aslihah yang lahir di Jombang, 1 Maret 2001 ini sudah memasuki semester 5 pada Jurusan Ushuluddin di Universitas Al Azhar Kairo Mesir.
Perjuangannya hingga bisa kuliah di negeri yang diimpikan juga tidak mudah.
Perjuangan dimulai pada tahun 2019, ketika ia lulus dari Ponpes YTP Kertosono.
Ia bersama beberapa teman yang memiliki cita-cita sama, mengikuti seleksi Al Azhar melalui jalur Kemenag RI.
Ada beberapa tes yang dilakui, termasuk tes tulis, bahasa Arab hingga tes wawasan kebangsaan.
Pecobaan pertamanya berbuah kekecewaan. Begitu pengumuman keluar, namanya tak masuk dalam daftar calon mahasiswa yang diterima.
”Saya down, gelisah karena setelah lulus saya tidak mendaftar di perguruan tinggi mana pun, hanya Al Azhar satu-satunya harapan saat itu,” kata pria yang hobi menulis dan jalan-jalan tersebut.
Hanif kemudian memutuskan untuk merantau ke Bogor, mengikuti karantina hafalan. Itupun tak sesuai harapan, sebab kegiatan tidak berjalan sama sekali.
Sehingga ia memutuskan keluar dari Bogor dan bekerja di Cikarang menjadi marbot masjid di kompleks perumahan.
”Saat itu saya juga jalan-jalan di Bandung, Jakarta dan sekitarnya,” jelas pria yang ingin jadi dosen dan memiliki panti asuhan tersebut.
Di Bogor, Hanif juga menerima informasi dari seorang ustad pondok mengenai seleksi beasiswa Pemprov Jatim.
”Saya mau pulang kampung, tapi ustad dawuh kalau beliau yang akan mengurus semua, Alhamdulillah saya sempat pulang sebelum aturan dilarang mudik karena virus Covid-19,” jelasnya.
Pada 2020 pengumuman kelulusan dan berkas administrasi keluar, namanya dan beberapa temannya ada di pengumuman tersebut.
Sayangnya, pihak LPPD mengumumkan penundaan seleksi sampai waktu yang belum ditentukan karena pandemi merebak kala itu.
”Gelisah sekali saat itu, apalagi, ibu saat itu sudah beri ultimatum kalau tahun ini tidak kuliah, maka saya tidak akan dikuliahkan karena saya masih punya dua adik,” jelasnya.
Hanif sempat mendaftar di beberapa perguruan tinggi Islam negeri di Jawa Timur, sayangnya tidak ada satupun yang menerima, hingga akhirnya ia diterima di UMM Malang jurusan PAI.
Selama pandemi, ia kuliah online, sembari menjadi marbot di masjid, hingga menjadi guru ngaji bagi anak-anak, memberikan les privat, hingga berjualan kentang tornado dan buah semangka.
Baca Juga: Setelah Dua Tahun Berjuang, Gadis Asal Jombang Ini Sukses Raih Beasiswa di Korsel
Meski sudah jadi mahasiswa, mimpi Hanif untuk kuliah di Al Azhar masih menyala. Hingga akhirnya ia menerima informasi tahapan beasiswa LPPD dilanjutkan lagi.
”Singkat cerita saya minta restu kepada orang tua, akhirnya diizinkan dan saya diterima,” jelasnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW