JOMBANG - Penampilan Fallikhul Daffa dalam Grand Final Lomba Baca Puisi Piala Kajari dan Jawa Pos Radar Jombang di Pendopo Kabupaten, Selasa (5/9) pagi, mencuri perhatian dewan juri.
Penjiwaan puisi berjudul Ibu yang dibacakannya sangat ekspresif hingga terpilih juara 1 lomba baca puisi piala Kajari Jombang tingkat SD/MI.
Begitu nama Daffa dipanggil, dengan tenang ia berjalan menuju panggung Pendapa Kabupaten Jombang. Tanpa alas kaki, ia cukup memakai sandal jepit, berkaos oblong dan bersarung batik. Di kepalanya, bertengger blangkon hitam yang warnanya mulai kusam.
Siswa kelas 6 SDN Badang 3 Ngoro ini tetap percaya diri. Tampilannya semakin natural manakala di lehernya melingkar sebuah kalung jimat dengan kotak hitam segi empat.
Anak kedua dari pasangan Adi Prasetiya dan Rifca Sufinda Ardilah, warga Kauman Ngoro ini membacakan puisi karya Si Celurit Emas D Zawawi Imron berjudul Ibu.
”Sebenarnya saya dulu tidak begitu suka membaca puisi,” katanya mengawali perbincangan dengan wartawan koran ini setelah dinobatkan sebagai pemenang.
Daffa baru menyukai puisi sejak duduk di bangku kelas 5. Terutama saat puisi masuk kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya.
Sebagai pemula, ia sempat mengikuti perlombaan. Namun, lomba pertama yang diikutinya gagal karena dia masih grogi.
Meski begitu, dirinya tidak patah semangat dan terus melanjutkan berlatih membaca puisi.
”Baru kemarin mengikuti lomba di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang berhasil meraih juara 2,” tutur siswa yang hobi bersepeda ini.
Karena itulah saat ada lomba membaca puisi piala Kajari dan Jawa Pos Radar Jombang, Daffa kembali ikut dengan berlatih setiap hari.
”Selain berlatih di sekolah, saya juga berlatih di rumah setiap hari,” beber dia.
Kini, setelah berhasil meraih juara 1, ia semakin memantapkan niat menekuni dunia seni. Bahkan, Daffa bercita-cita menjadi seniman.
Terinspirasi sang mestro puisi Indonesia Si Celurit Emas D Zawawi Imron, yang turut memotivasi sekaligus membacakan sejumlah karya puisi.
”Saya punya cita-cita jadi seniman,” kata bocah kelahiran 22 Desember 2011 ini.
Meski sekarang belum punya karya sendiri, dirinya bertekad bisa menulis puisi dan menjadi terkenal seperti penyair Buya Zawawi Imron.
”Ya, saya pingin bisa menulis puisi seperti beliau (Zawawi Imron, Red),” imbuhnya.
Karena itulah saat Grand Final kemarin, dia juga membacakan puisi karya Zawawi Imron.
”Tadi saya membacakan puisinya berjudul Ibu. Karena saya sangat menyukai puisi itu,” tegasnya.
Kepala SDN Badang 3 Purwaning Lestari, mengaku sangat bangga atas perolehan peserta didiknya yang berhasil meraih juara 1.
Setelah sebelumnya, Daffa meraih juara 2 tingkat SD se-Jombang. "Kami juga berterimakasih kepada Kejari dan Jawa Pos Radar Jombang mengadakan lomba puisi ini. Karena wadah untuk meningkatkan kreativitas siswa," katanya.
Ia menilai, kesempatan mendapat golden tiket dirasakan cukup adil karena sekolah seperti SDN Badang 3 Ngoro cukup sulit bila hanya mengandalkan pageview.
"Sekolah kami muridnya hanya 83 anak. Sehingga kami berterimakasih masih diberikan kesempatan untuk Daffa menunjukkan kreativitas," tambah dia.
Meski hanya memiliki siswa sedikit, pihaknya terus menggembleng peserta didik untuk menunjukkan bakat dan kreativitas sesuai minat masing-masing.
"SD kami setiap tahun mendapat juara 1 untuk lomba puisi dan menggambar di tingkat kabupaten," pungkasnya bangga. (yan/bin/riz)
.
Editor : Achmad RW