Radarjombang.id - MUSIM hujan sering kali menjadi momok bagi para petani, tak terkecuali Bagus Andri, 31, pemuda asal Desa Mojongapit Jombang yang membudi dayakan melon premium.
Ia pun harus memutar otak demi menjaga produktivitas tanaman buah melonnya yang harus terus maksimal.
”Musim hujan ini yang paling berat, tanaman gampang kena jamur, batang busuk kalau sedikit saja telat disemprot,” ujarnya saat ditemui di green house miliknya, Senin (7/7).
Memulai budi daya sejak tahun 2024 lalu, Andri mengaku sudah empat kali berhasil memanen melon premium meski harus berjibaku dengan perubahan cuaca.
Tentu, untuk bisa panen maksimal, ia harus berupaya keras. Misalnya dengan menyemprot tanaman dua hingga tiga kali sehari untuk menjaga kelembapan dan mencegah jamur.
Bandingkan dengan musim kemarau, yang hanya butuh semprotan seminggu sekali. Ia tak pernah absen memantau kondisi daun, batang, dan buah.
Bahkan saat hujan turun deras, ia tetap mengecek satu per satu tanaman di dalam green house. ”Satu batang saja busuk, bisa nular ke sebelahnya. Jadi harus benar-benar telaten,” ujarnya.
Dengan ketekunan itu, Bagus mampu menjaga kualitas panennya. Buah melon yang dihasilkan tetap renyah, manis, dan beraroma kuat – tiga ciri khas yang dicari pembeli setianya. ”Pembeli saya sekarang sudah tahu rasa dan teksturnya.
Baca Juga: Budi Daya Durian Premium Makin Marak di Wonosalam Jombang, Sambung Batang Jadi Rahasianya
Kalau tidak segar, mereka pasti komplain. Karena itu saya hanya jual di Jombang, biar bisa kontrol langsung,” jelasnya.
Harga jualnya memang tinggi, Rp 30 ribu per kilogram. Namun hasil tersebut sepadan dengan kerja keras yang ia lakukan sepanjang musim. Menurut Bagus, bertani di tengah musim sulit seperti ini menuntut dua hal, yakni pengetahuan dan kesabaran. ”Bertani itu bukan cuma soal tanam dan panen. Tapi juga soal bertahan dan belajar terus,” tutupnya, sambil menyiram barisan tanaman yang mulai menunjukkan buah-buah kecil di ujung batang. (riz/naz)
Editor : Anggi Fridianto