Seperti halnya karapan sapi di Madura, karapan kambing di Carangwulung juga melombakan adu cepat kambing yang di kendalikan oleh joki dari para peternak. Tradisi karapan kambing di wilayah ini sudah berlangsung bertahun-tahun.
Seperti halnya kegiatan lomba karapan kambing yang dilangsungkan Minggu (27/6) lalu. Sejak antusiasme warga sudah terlihat. Mereka sudah berdatangan ke kawasan pasar desa tempat lomba karapan sapi digelar. Para penonton memenuhi pinggir lintasan pacuan yang sudah diberi pembatas oleh panitia.
Tidak hanya warga di wilayah Kecamatan Wonosalam, sejumlah pengunjung dari luar daerah juga berdatangan. Mereka tak ingin melewatkan keseruan melihat keterampilan para joki memacu hewan ternak ini.
Tak ada kriteria khusus dari jenis kambing yang digunakan. Namun karena ras peranakan etawa (PE) adalah ras unggulan di Wonosalam, maka mereka menggunakan PE untuk bertanding. Selain menyiapkan mental, para joki juga sebelumnya mempersiapkan kambing pacunya.
Tibalah waktu lomba, tampak dua joki sudah bersiap di lintasan balap bersama kambing tunggangannya. Kedua joki ini harus beradu cepat untuk mencapai titik finish lebih dulu dari sekitar 30 meter panjang lintasan. Siapa yang paling cepat mencapai garis finish maka dialah pemenangnya.
Sorak sorai penonton tak terbendung terlebih setelah para joki mulai memacu kambingnya sambil membawa cambuk. Serunya lagi, bukannya berlari lurus ke depan, beberapa kali kambing langkah justru berkelak-kelok ke sisi kiri dan kanan lintasan pacuan, bahkan berputar-putar sehingga membuat para joki harus ekstra menjaga keseimbangan agar bisa sampai ke garis finish. ”Selain lintasan yang masih basah usai diguyur hujan, kambing cenderung bingung saat dikerumuni banyak penonton, jadi agak sulit dikendalikan, harus dicambuk untuk lari lurus ke depan,” terang Riadi, 46, joki karapan kambing.
Warga asli Desa Carangwulung ini mengaku sudah dua tahun ikut karapan kambing di desanya dan memenangkan perlombaan itu. Ia mengatakan, ada trik khusus untuk mempersiapkan kambingnya mengikuti lomba tersebut. ”Caranya selain diberi empon-empon supaya tak loyo, juga harus sering sering latihan,” papar dia.
M Arief Kades Carangwulung mengatakan, karapan kambing sudah menjadi tradisi tahunan di desanya. Selain menjadi daya tarik wisatawan, diharapkan dari event ini bisa berimbas pada peningkatan ekonomi warga, khususnya peternak kambing di wilayahnya. ”Harapan kami memang seperti itu. Memang kalau sekarang belum berdampak langsung, tapi beberapa tahun kedepan pasti akan membuahkan hasil,” kata Arief.
Kambing PE jantan yang digunakan ajang karapan kambing kemarin, rata - rata berumur 1 tahun. Sebelum bertanding harga jual kambing itu rata rata Rp 3 - 4 juta. Namun, jika menang bisa ditaksir meningkat hingga Rp 4,5- 5 juta. ”Karena kalau sudah menang akan muncul trah juara. Dan itu yang meningkatkan harga jual,’’ tambahnya.
Populasi kambing PE di Desa Carangwulung terus meningkat setiap tahunnya. Saat ini ditaksir mencapai 1.500 ekor. ”Itu hanya di Carangwulung saja, belum lagi di seluruh Kecamatan Wonosalam,’’ pungkasnya. (ang/naz/riz) Editor : Achmad RW