Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Antara Ujian dan Kompetensi

A
Penulis: Anggi Fridianto❯
Binti Rohmatin   
Binti Rohmatin   

Advertisement

 

Oleh : Binti Rohmatin   

Advertisement

BARU seminggu hajatan nasional yang bernama Tes Kompetensi Akademik (TKA) jenjang SD/MI selesai dilaksanakan.

 Tiga minggu sebelumnya, pada 6-16 April lalu, TKA jenjang SMP/MTs juga selesai dilaksanakan. Lega rasanya.

 Tidak hanya guru dan kredibel sekolah yang menyiapkan sedemikian rupa agar siswa mendapatkan nilai maksimal.  Orang tua juga tak mau ketinggalan dengan memberikan dukungan. Termasuk siswa itu sendiri.

Advertisement

Dan Senin (11/5) depan, ujian ulang untuk menunjang siswa yang belum mendapatkan nilai, atau yang nama dan nomor pesertanya tidak terdeteksi secara digital, akan dilaksanakan.

Hampir semua sekolah membuka kepanitiaan kembali TKA dengan tingkat kepesertaan antara 4-10 persen. Maka, mau tidak mau, semua unsur sekolah harus menyiapkan. Siswa juga harus belajar kembali agar TKA yang diikuti kali ini tidak gagal system.

Secara nasional, memang tingkat kehadiran peserta pada saat TKA, baik jenjang SMP/MTs maupun jenjang SD/MI, tidak mencapai 100 persen.

Ada sekitar 2-3 persen siswa yang belum mengikuti TKA karena berbagai alasan, mulai dari kesiapan psikologis mereka sendiri. Sampai dengan pertimbangan minimnya dukungan orang tua. 

Temuan siswa tidak hadir yang kemudian dijemput guru, menyampaikan berbagai macam alasan. Bahkan terkesan dibuat-buat hanya untuk menghindari asesmen.

 Hal ini bisa dimaklumi karena memang sudah lima tahun penerapan sistem pendidikan nasional kita, tidak lagi memberlakukan ujian nasional.

Jika diruntut, mulai ujian Ebtanas tahun 1980-2002, Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2003-2004, Ujian Nasional (UN) tahun 2005-2014, hingga  Ujian Nasional Berbasis Kompetensi (UNBK) tahun 2015-2019.

Advertisement

Artikel Terkait

Dari Meja Akademik ke Layar Gawai dan Ditemukannya Wajah Baru Kritik Sastra

Dari Meja Akademik ke Layar Gawai dan Ditemukannya Wajah Baru Kritik Sastra

Dahulu, kritik sastra di Indonesia memiliki panggung yang sakral: rubrik budaya surat kabar minggu, jurnal-jurnal kampus yang tebal, serta forum diskusi terbatas. Kritik adalah domain para intelektual dan akademisi yang

Ketika Novel Menyingkap Realitas: Jerat Perdagangan Manusia di Asia Tenggara

Ketika Novel Menyingkap Realitas: Jerat Perdagangan Manusia di Asia Tenggara

Keinginan mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi merupakan harapan banyak orang. Setiap orang ingin mengubah nasib dan memperbaiki kehidupan keluarganya.

Cegah Kekerasan Seksual di Pesantren, Santri MTsN 2 Jombang Dibekali Jurus 3M

Cegah Kekerasan Seksual di Pesantren, Santri MTsN 2 Jombang Dibekali Jurus 3M

Kamis (15/10) di MTsN 2 Jombang PP Darul 'Ulum, Rejoso, Peterongan, digelar halaqah pencegahan kekerasan seksual di lingkungan madrasah dan pondok pesantren. HM Makhi MPdI selaku kepala madrasah menjelaskan tujuannya. ’’

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer