Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Sugeng Hariyanto, Kepala Sekolah di Jombang yang Jago Melukis dan Bermain Musik

Wenny Rosalina • Minggu, 1 September 2024 | 21:45 WIB
Sugeng Hariyanto SPd MPd, Kepala SMPN 1 Sumobito Jombang
Sugeng Hariyanto SPd MPd, Kepala SMPN 1 Sumobito Jombang

RadarJombang.id - Darah seni melekat pada Sugeng Hariyanto SPd MPd, kepala SMPN 1 Sumobito Jombang.

Meski statusnya kini adalah kepala sekolah, Sugeng tetap mengembangkan bakatnya yakni melukis dan bermusik.

Hal itu, ternyata tak lepas dari kebiasaannya melukis dan bermusik sejak kecil.

’’Itu karena kebiasaan. Saya sejak SMP sudah suka menggambar dan bermain musik,’’ katanya.

Pria yang lahir di Jombang 18 Agustus 1969 ini lahir di keluarga sederhana. Ayahnya seorang petani. Ibunya ibu rumah tangga.

Sugeng bungsu dua bersaudara. Kakaknya, Anik Sutartatik, kepala SDN Kedungmlati Kecamatan Kesamben.

’’Tapi jangan dilihat enaknya saja, dulu penuh perjuangan untuk sampai dititik ini,’’ katanya.

Ia mulai pendidikan di SDN Jombatan 1 Kecamatan Kesamben dan SMPN 1 Kesamben. Kemudian SPG Jombang yang sekarang SMAN 3 Jombang.

Ia mandiri sejak SMP. Hidup dengan menjajakan lukisan kaca karyanya dari pintu ke pintu sembari menerima pesanan dari guru-gurunya kala itu.

Hal itu ia lakoni sampai lulus SPG. Hobinya itu menambah uang jajan yang diberikan kedua orang tuanya.

’’Orang tua tidak pernah sama sekali meminta saya untuk bekerja atau berjualan, itu berangkat dari diri saya sendiri,’’ katanya.

Lulus SPG, ia ingin melanjutkan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, atau yang dulu dikenal sebagtai ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia). Sayang, keinginannya tidak direstui orang tua.

Akhirnya, ia memilih kuliah di IKIP Malang yang sekarang Universitas Negeri Malang (UM) dengan konsentrasi Seni Rupa.

Pengalaman dan pengetahuannya semkakin berkembang, jam terbangnya dalam melukis juga semakin tinggi.

Ia mulai melukis di kanvas dan mengikuti sejumlah pameran. Sayangnya itu tak terlalu menjanjikan, sehingga Sugeng masih tetap berjualan lukisan door to door untuk menambah uang jajan.

Bahkan, ia sering ngamen untuk dapat uang tambahan. ’’Saya bisa main musik. Kalau ada teman sambatan gak punya uang, saya ajak ngamen, dari perumahan ke perumahan, lumayan dapat tambahan uang,’’ paparnya.

Lulus S1 pada 1994, ia mendapat tawaran menjadi guru tidak tetap (GTT) di dua sekolah. Semua ia ambil, di SMPN 1 Kesamben dan SMPN 1 Kudu.

Di sana, bakat musiknya dikembangkan. Mulai beli gitar elektrik, dan mulai menerima job dari panggung ke panggung.

’’Lukis tetap jalan, orang sudah datang ke rumah untuk pesan, saya tidak dagang keliling lagi,’’ katanya.

1997 ia menikah dengan Siti Alimah SPd, yang saat itu juga GTT di SMPN 1 Kesamben.

Pada 1998, anak pertamanya Gagas Libertio Cahya Purnama lahir. Pada 2000 ia mendapatkan SK PNS di SMPN Kedungpring Lamongan.

Sembari mengajar, Sugeng melanjutkan S2 di Universitas Kanjuruhan Malang jurusan Pendidikan IPS. ’’Awalnya mau ke ITB, tapi terkendala izin belajar,’’ jelasnya.

Di sekolah ia intens bermusik. Karirnya sebagai pelukis meredup setelah pindah ke Lamongan. Lukisan yang ia tawarkan tak lagi dilirik orang.

Kemudian Sugeng banting setir menjadi tukang sablon, menerima pesanan undangan, kalender, serta spanduk tulisan tangan.

Baca Juga: Cerita Perjuangan Hidup Mujiono, Dari Kehidupan Sederhana Kini Sukses Jadi Pengusaha

’’Istri saya bantu di sablon sambil momong anak yang masih kecil. Dia memang saya minta tidak lagi jadi guru setelah kami pindah ke Lamongan. Di sana kami ngontrak,’’ katanya.

Kepala sekolah yang mengetahui Sugeng gemar bermusik difasilitasi dengan keyboard baru.

Agar bakatnya dikembangkan dan bisa mengiringi paduan suara sekolah, banjari dan lain sebagainya.

Sugeng yang tak pernah main keyboard harus belajar dari nol secara otodidak.

’’Zaman dulu tidak ada youtube, belajar hanya meraba-raba, mencocokkan petikan gitar ke piano,’’ jelasnya.

Setelah mahir, ia memberanikan diri untuk buka studio musik di Kedungpring, yang ia sewakan.

Usahanya laris manis, karena sebelum bermain, penyewa diajarkan dulu sehingga banyak yang berminat. ’’Kalah dengan musik, sablon tidak jalan lagi,’’ ucapnya.

Saat di Kedungpring itu juga, istrinya kembali mengajar, menggantikan guru Bahasa Inggris yang kala itu cuti karena melahirkan.

Tak sengaja jadi guru lagi, istrinya diangkat sebagai GBS (guru bantu sementara) yang setahun kemudian langsung diangkat sebagai PNS tanpa tes.

Pada 2006 anak keduanya, Muh Gaza Hisyam Al Amin lahir. Saat itu juga ia mengajukan mutasi ke Jombang.

Sayangnya, hanya Sugeng yang diizinkan. Sementaranya istrinya baru diizinkan satu tahun kemudian. Setelah SMPN Kedungpring dapat tambahan tiga guru sekaligus.

’’Saya ngajar di SMPN 1 Ploso, sempat pulang pergi ke Kedungpring satu tahun. Istri saya dimutasi ke SMPN 1 Kesamben, dua tahun kemudian saya mutasi juga ke SMPN 1 Kesamben,’’ jelasnya.

Baca Juga: Muchammad Shokhi SPd MPd Ketua MKKS SMPN Kabupaten Jombang, Getol Motivasi Siswa, Tingkatkan Kualitas Pendidikan

2020 ia diangkat menjadi kepala SMPN 1 Ngusikan. Bersamaan dengan itu, hobi bermusiknya dari panggung ke panggung mulai ditinggalkan.

’’Sudah ada rasa tidak enak, ketika saya manggung ketemu wali murid, ketemu siswa, apalagi saya statusnya sudah kepala sekolah,’’ ungkap pemilik nama panggung Aa Ugeng tersebut.

Setelah anak sulungnya lulus sekolah penerbangan dan ketika itu sedang pandemi, ia mendirikan grup musik sendiri. Anaknya yang bermain organ, Sugeng yang membawakan acara (MC).

’’Baru berhenti bermusik 2023, setelah anak saya lolos seleksi CPNS di Jakarta. Sampai sekarang berhenti total, apalagi perbendaharaan lagu juga sudah tidak banyak. Tapi kalau acara MKKS, atau acara sekolah, masih oke lah,’’ kata sekretaris MKKS SMP negeri Jombang ini. (wen/jif/riz)

 

Editor : Achmad RW
#jago #melukis #kepala sekolah #bermain musik