Radarjombang.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin. Terutama tentang pentingnya keyakinan Tuhan bisa mengubah kekurangan menjadi kelebihan.
’’Lalu orang Israel berseru kepada Tuhan, maka Tuhan membangkitkan bagi mereka seorang penyelamat yakni Ehud, anak Gera, orang Benyamin, seorang yang kidal,’’ tuturnya mengutip Hakim-hakim 3:15.
Setiap orang pasti sensitif terhadap apa yang dipandang sebagai "kekurangan" pada fisiknya. Apalagi kalau orang-orang di sekitar memakainya sebagai bahan ejekan.
Menyebut kekurangan itu untuk memaki.
Bahkan para pelawak yang kehabisan lelucon memakainya juga untuk memunculkan kelucuan.
Akibatnya jauh di dalam hati, kekurangan fisik menimbulkan tekanan dan rasa minder yang mengusik jiwa pemiliknya. Namun benarkah itu "kekurangan"?
Pada masa lampau seorang yang kidal juga dipandang kurang. Keadaan itu dianggap tidak lazim, janggal atau ada sesuatu yang kurang.
Dipandang kurang terampil. Jika lelaki, ia akan dipandang sebelah mata dalam ketentaraan. Namun ayat di atas mencatat kisah hakim Ehud yang berkata lain.
Ehud seorang yang kidal, tangan kirinya yang lebih terampil dibanding tangan yang kanan, yang bagi sebagian besar orang dianggap itu kekurangan.
Tatkala bangsanya membutuhkan pemimpin, justru Tuhan "membangkitkan bagi mereka seorang penyelamat" (ayat 15).
Seorang yang kemudian memimpin pertempuran melawan musuh, yakni bangsa Moab. Bahkan membunuh Raja Moab dengan tangannya sendiri (ayat 21), tangan yang kidal (ayat 15).
Tuhan justru menggunakan kekidalannya menjadi keuntungan untuk menerabas hingga ke basis pertahanan lawan.
Baca Juga: Renungan Minggu 238, Hidup Bukan Soal Seandainya
Kiranya dijauhkan Tuhan, kita meremehkan kondisi fisik seseorang, apalagi jika orang itu adalah diri kita sendiri.
Kita tidak boleh minder dengan kekurangan kita. Di dunia ini ada banyak orang berkekurangan fisik, tetapi berprestasi besar.
Ada atlet, pemusik, artis, pelukis, motivator kelas dunia dan tentunya masih banyak lagi dari berbagai profesi.
Mereka berhasil dan sukses sekalipun punya kekurangan atau keterbatasan fisik. Jika Tuhan berkenan memakai mereka, tak ada yang sanggup menghalangi. Termasuk keterbatasan fisik mereka.
Seorang jemaat punya kesaksian, ketika masih kecil pernah jatuh dan berakibat salah satu kakinya bermasalah atau tidak bisa berjalan dengan normal.
Puji Tuhan, bapak ini tidak kehilangan semangat, sehingga dalam keadaan yang terbatas sekalipun namun tetap berjuang dan bekerja dengan baik.
Bahkan pekerjaannya makin diberkati dan hidupnya menginspirasi banyak orang. Sekalipun secara manusia sangat sulit untuk bisa bekerja atau beraktivitas seperti orang lain, tapi Tuhan karuniakan kelebihan dari kekurangannya dan berhasil.
’’Apa yang bagi manusia sebuah kekurangan, Tuhan bisa menjadikannya sebuah kelebihan. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto