Penginapan di Jombang Jaman Kolonial
Hotel Paviljoen yang Terbesar di Masanya
JOMBANG – Seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi wilayah afdeeling Djombang menjelang akhir abad ke-19, para pengusaha jasa penginapan mulai berlomba membangun hotel.
Sejak pemisahan administratif dan kewenangan Assistent-Residentie (AR) Djombang dari AR Modjokerto per tanggal 20 Maret 1881. Kedua wilayah AR ini di bawah kendali Residentie Soerabaja.
AR Djombang terdiri dari distrik Mojorejo (Jombang kota ke barat dan selatan), Mojoagung (wilayah timur dan selatan) dan Mojodadi (utara Brantas). Sedangkan AR Modjokerto terdiri dari distrik Mojokerto, Mojokasri, Mojosari Lor, Mojosari Kidul dan Jabung.
Setelah beberapa tahun pejabat AR Djombang tinggal di rumah dinas yang terletak di Djombangstraat (saat ini Jl Ahmad Yani), sekitar 1887, pindah ke utara Alun-alun Jombang. Sebab, rumah AR Djombang sebelumnya merupakan bekas rumah pejabat distrik Mojorejo.
Sedangkan yang di utara Alun-Alun Jombang (saat ini SMAN 1 Jombang) adalah rumah baru yang khusus dibangun untuk kantor dan kediaman pejabat AR. Perubahan kediaman dan kantor AR Djombang yang bergeser ini juga mempengaruhi tata kota di wilayah tengah dan selatan kota.
Wilayah tengah (Kepanjen dan Kepatihan) sebagai penyangga atau penghubung antara daerah administratif pemerintahan di selatan dengan pusat aktifitas ekonomi pasar dan pecinan di utara. Di selatan mulai dibangun stasiun kereta api SS, alun-alun, penjara, pasar, gudang garam, sekolahan, menyusul kemudian pendopo kabupaten.
Tahun 1908, dibangun pula gereja Katolik di sebelah utara kompleks gedung pemerintahan. Dengan semakin maju dan ramainya wilayah Jombang ini, secara otomatis kebutuhan akan tempat menginap bagi pelaku usaha, pelancong maupun pejabat pemerintahan juga meningkat. Peluang bisnis ini ditangkap dengan baik oleh para pemilik modal.
Setidaknya, ada tiga hotel yang dibangun di area dalam kota Jombang. Pertama Hotel Jacobs atau Hotel Djombang, kedua Hotel Paviljoen atau Hotel Pavelioen Java Djombang. Keduanya terletak di jalan utama Heerenstraat (kini Jl KH Wahid Hasyim).
Ketiga, Hotel Bromo yang ada di Djombangstraat (sebelah timur Pasar Legi). “Jika melihat peta 1918, keberadaan Hotel Jacobs saya duga ada di depan kompleks gedung pemerintahan,” kata Moch Faisol, salah satu penelusur sejarah Jombang.
Lokasinya saat ini tepat di sebelah barat kantor Bapenda Kabupaten Jombang. Sayang, jejaknya sudah tidak ada lagi. “Sekarang hanya berupa hamparan kebun kosong. Padahal di foto 1948, masih terlihat bentuk sisa bangunannya,” lanjut penulis buku Jejak Laskar Hizbullah Jombang (2018) ini.
Dari dokumentasi iklan promosi di surat kabar De Locomotief terbitan 23 Juni 1893, Hotel Jacobs ini mempunyai keunggulan kamar tunggal, sudah dilengkapi bel (untuk memanggil pelayan), mejanya bagus, pelayanan rapi dan tarif yang wajar.
Hotel ini juga terletak di dekat rel kereta api (stasiun SS). Sementara pada iklan di surat kabar Soerabaijasch Handelsblad terbitan 13 Juni 1900, Hotel Jacobs mengingatkan kepada publik, bahwa penginapan milik L Jacobs ini juga dikenal dengan nama Hotel Djombang. Sudah dilengkapi dengan sambungan telepon yang bisa dihubungi di nomor 23.
Sedangkan dari foto bertahun 1907, tergambar kondisi halaman depan Hotel Pavelioen yang cukup luas. Ada hiasan pot besar setinggi 1 meter dan tanaman bunga-bungaan. Para tamu baik pria, wanita dan anak-anak bersantai di halaman depan.
Ada yang berdiri maupun duduk di kursi sambil menikmati sajian di meja. Sedangkan para pelayan, berdiri di belakang tamu sambil menghadap ke kamera.
Foto ini menjadi koleksi KITLV di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda dengan kode rak 181834. Di sebelah pojok kanan bawah tertulis identitas studio foto yang mencetak bernama Sung Liong Hien dari Pasuruan.
Di bagian bawah pemilik foto menulis: P.f Jongkaeut Malang 1907/1908. “In Djombang woonde ik van 1 Juni – 1 Nov ’07, als ambtenaar a/d Kediri Stoomtram Maatschappij” (Di Jombang, saya hidup (tinggal) dari tanggal 1 Juni sampai 1 November 1907, sebagai pegawai Jawatan Kereta Api Kediri / KSM).
Rupanya, orang yang sempat mendokumentasikan dirinya saat itu adalah pegawai kereta api KSM. Selama bertugas lima bulan di Jombang, dia memilih tinggal di Hotel Pavelion.
Nama Hotel Pavelion juga bisa ditemukan di buku panduan pelancong komersial terbitan 1926. Pada buku berjudul Commercial’s Travelers Guide to the Far East itu tertulis Hotel Pavillion.
Buku panduan itu juga menulis bahwa komoditas andalan Jombang adalah produk gula dari belasan suiker fabriek yang beroperasi di sini. Secara berkala, para salesman singgah di Jombang untuk menyuplai mesin dan kebutuhan alat-alat pertanian lain.
Rekomendasi hotel Paviljoen ini cocok bagi para canvaser yang ingin menginap, sebelum melanjutkan berjualan ke kota-kota lain.
Bupati Jombang yang pertama, RAA Soeroadiningrat bahkan sempat berkantor sekaligus tinggal di Hotel Paviljoen dan Hotel Bromo di awal pemerintahannya. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW