Kios yang jadi korban aksi pembobolan ini, adalah kios kelontong milik Maslikah, 68, pedagang asal Dusun Cikaran, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Gudo. ”Tahunya itu sekitar pukul 5.30, saat ibu mau membuka kios (5/11), tahu-tahu engselnya sudah patah terlihat bekas congkelan, kalau gemboknya utuh,” terang Agung, 37, anak korban.
Agung menjelaskan, usai mengetahui ada yang tak beres di kiosnya, Maslikah pun segera melakukan pengecekan. Benar saja, sejumlah barang dagangannya di dalam kios yang berjarak 15 meter dari pintu masuk sisi selatan ini telah raib. ”Barang yang diambil ada kacang tanah 20 kilogram yang baru datang, rokok ada 4-5 slop, dan uang tunai yang ditinggal di kios,” lanjutnya.
Agung tak bisa memastikan kapan pelaku beraksi. Hanya saja, setiap harinya kios milik ibunya tersebut buka hingga jam 11.00. ”Sebelum ditinggal pulang yang dikunci rapat,” imnuhnya.
Sebenarnya setiap harinya ada penjaga pasar, namun tak satupun mengetahui saat pelaku beraksi. ”Di pasar juga tidak ada CCTV, jadi ya mau bagaimana lagi,” lontarnya.
Atas kejadian itu, ia mengaku harus menderita kerugian hingga Rp 1,5 juta. Meski diakuinya tak besar, uang itu sangat berharga bagi ibunya. Ia pun berencana melaporkan pembobolan ini ke aparat berwajib. ”Sementara belum lapor ke polisi, harapannya agar pelakunya segera ditangkap,” ambah Agung.
Terlebih, lanjut Agung, bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya kios ibunya juga pernah dibobol maling. ”Sebulan lalu juga dibobol, lewat pintu bagian depan, terus ini yang kedua,” pungkasnya. (riz/naz/riz) Editor : Achmad RW