Radarjombang.id – Komitmen menanamkan nilai moral sejak usia dini terus digaungkan Ketua Himpaudi Kecamatan Ngoro, Anik Maftuhah SAg. Kepala KB Al-Azhar ini meyakini pendidikan akhlak merupakan pondasi utama sebelum anak menerima berbagai ilmu pengetahuan.
’’Kita dahulukan adab sebelum ilmu,’’ ucapnya. Ia berusaha mengajak seluruh pihak, baik guru di sekolah maupun orang tua di rumah, untuk bersama-sama berkomitmen menanamkan adab sopan santun dan tata krama kepada anak-anak.
’’Mengajarkan nilai moral kepada anak usia dini sejatinya tidaklah sulit,’’ katanya. Anak usia dini memiliki sifat peniru. Ketika mereka melihat contoh yang baik, di rumah maupun di sekolah, mereka juga akan tumbuh menjadi pribadi yang baik. ’’Pendidikan akhlak inilah yang menjadi pondasi anak-anak untuk belajar banyak hal ke depannya,’’ terangnya.
Sebagai Ketua Himpaudi Kecamatan Ngoro, Anik aktif menggerakkan berbagai program kerja. Mulai dari mengikuti seluruh kegiatan tingkat kabupaten. Pertemuan rutin kecamatan. Pendampingan lembaga yang akan menghadapi akreditasi. Hingga peringatan hari besar nasional dan hari besar Islam. Bulan ini, misalnya, peringatan Isra’ Mi’raj dikemas bersamaan dengan pertemuan rutin Himpaudi melalui pembacaan salawat Nabi bersama guru PAUD se-Kecamatan Ngoro.
Pengabdian Anik di dunia PAUD bukanlah hal baru. Sejak 2005, ia telah terlibat sebagai pengurus Himpaudi di Kecamatan Ngoro. Sebelumnya lebih sering berada di balik layar. Meski sempat berniat mundur karena kesibukannya sebagai guru kelas di salah satu MI swasta, ia justru kembali dipercaya untuk memimpin Himpaudi kecamatan.
’’Awalnya agak terpaksa, tapi saya anggap ini sebagai perjuangan. Saya masih ingin melihat teman-teman pendidik KB mendapatkan kesetaraan dengan guru PAUD formal, termasuk kesempatan untuk sertifikasi,’’ tuturnya.
Anik berharap pertemuan rutin Himpaudi dapat menjadi ajang silaturahmi, belajar bersama, dan saling menguatkan antar pendidik KB. Ia menyadari, hingga kini guru KB masih belum sepenuhnya diakui setara dengan guru PAUD formal. Sementara tuntutan pekerjaan yang diemban nyaris sama. Kondisi kesejahteraan yang minim sering menyebabkan tingginya pergantian guru di lembaga KB.
’’Saya selalu menekankan kepada teman-teman untuk tetap ikhlas berjuang mendidik anak-anak bangsa,’’ katanya.
Di KB, ia memilih tidak menerima bayaran karena telah tersertifikasi di MI. Ia juga aktif mendampingi dan membimbing lembaga-lembaga lain, terutama dalam hal pengelolaan Dapodik, ARKAS, dan administrasi pendidikan lainnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto