”APBD 2022 ini tidak ada alokasi untuk perbaikan sekolah baik SD maupun SMP rusak. Anggaran tahun ini banyak yang di-refocusing untuk penanganan Covid-19,” terang Senen, Kepala Dinas P dan K Jombang.
Dari pendataan yang dilakukan dinas, banyak gedung sekolah yang butuh perbaikan. ”Per (22/5) kemarin, sedikitnya ada 155 gedung SD yang rusak butuh perbaikan. Belum termasuk gedung SMP,” imbuhnya.
Ratusan gedung SD yang rusak, umumnya disebabkan faktor usia bangunan. ”Rata-rata sudah lebih dari 10 tahun bahkan sebagian ada yang sudah berusia 20 tahun. Tingkat bermacam-macam, mulai rusak ringan, sedang, berat,” terangnya.
Dikatakan Senen, untuk memperbaiki semua gedung sekolah yang rusak, tentunya membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. ”Dari sisi anggaran sebenarnya kita butuh anggaran besar. Namun nanti kita prioritaskan mana yang kerusakan berat kita dahulukan,” jelas mantan Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Jombang ini.
Lantaran di APBD reguler tahun ini tidak ada anggaran untuk perbaikan sekolah, pihaknya berjanji akan mengusulkannya pada saat APBD perubahan. ”Tidak bisa kita tangani langsung apalagi di APBD reguler ini. Jadi nanti kita prioritaskan yang rusak berat kemudian usulkan di P-APBD,” tandasnya.
Disinggung terkait kondisi gedung SDN Talunkidul 2 yang rusak, Senen tak menampik. Pihaknya bahkan sudah melakukan survey ke sekolah yang terletak di Kecamatan Sumobito ini. ”Kemarin kami sudah kami survey ke sana. Insya Allah kami usulkan di PAK atau P-APBD. Kalau nanti disetujui insya Allah kita perbaiki tahun ini,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin (22/5).
Seperti diberitakan sebelumnya, siswa-siswi SDN Talunkidul 2 waswas belajar di kelas. Menyusul kondisi plafon sejumlah kelas jebol. Tak hanya itu, kondisi genting di selasar kelas juga banyak yang ambrol. Kondisi paling parah terpantau di ruang kelas V. Di kelas ini, tampak plafon kelas jebol. Pihak sekolah memasang kayu penyangga agar plafon tak semakin rontok.
Tak hanya itu, melihat kondisi plafon yang rawan runtuh, sekolah merekayasa tempat duduk siswa dengan model U atau mepet ke tembok mengantisipasi ancaman runtuhnya plafon sewaktu-waktu. Selain mengganggu konsentrasi siswa, plafon yang jebol juga membuat proses belajar mengajar tak nyaman. Pihak sekolah juga siswa berharap, pemerintah daerah segera memperbaiki plafon kelasnya yang jebol. (ang/naz/riz) Editor : Achmad RW