RadarJombang.id - Defisit guru di Kabupaten Jombang yang hingga tahun 2024 mencapai 2.379 guru direspons kalangan pewan pendidikan.
Untuk mentupi defisit guru itu, Dewan Pendidikan Jombang mendorong pemerintah melakukan serangkaian langkah konkret.
Salah satu langkah yang didorong dewan pendidikan untuk mengatasi defisit guru di Jombang, adalah dengan membuka kembali penerimaan guru tidak tetap (GTT).
’’Penerimaan GTT harus dibuka lagi, itu salah satu cara mengatasi kekurangan, dan diatur dalam regulasi baru,’’ kata Akhmad Zainuddin, pengurus bidang advokasi Dewan Pendidikan Kabupaten Jombang, kemarin.
Menurutnya, jika tidak segera dilakukan penerimaan GTT, dampak yang akan ditimbulkan semakin banyak.
Banyak guru bahkan PNS yang mendekati masa purna terbebani dengan jam mengajar yang tinggi.
’’Bahkan kadang memaksakan guru yang tidak sesuai kompetensinya, dampak akhirnya nanti pasti kepada siswa, pembelajaran tidak optimal,’’ katanya.
Prosedur memasukkan data guru ke dalam dapodik juga dinilai rumit.
Kekurangan guru dikeluhkan banyak kepala sekolah. Rudy Priyo Utomo, kepala SMPN 1 Jombang mengatakan, tahun ini siap-siap dengan dua guru yang pensiun.
Untuk mengatasi kekurangan itu, Yoyok sapaan akrabnya, memaksimalkan guru yang ada.
Baca Juga: P-APBD 2023 Didok! Anggaran Belanja Jombang Defisit Rp 349 Miliar
Jam mengajar guru 24 jam seminggu. Namun, tidak ada guru yang mengajar dengan beban jam ideal.
Minimal guru mengajar 30 bahkan ada yang 35 jam pelajaran setiap minggu.
’’Itu sudah sangat berat. Satu guru Matematika mengajar sampai 35 jam pelajaran,’’ jelasnya.
Setelah memaksimalkan guru yang ada, namun tetap kurang. Terpaksa ia harus menabrak aturan dinas untuk mengangkat GTT baru.
Hanya saja, GTT tersebut tidak bisa masuk dalam dapodik.
’’Kontrak setahun biasanya, untuk penggajian diambilkan dari BOS daerah,’’ bebernya.
GTT yang diangkat dengan SK kepala sekolah harus menyetujui beberapa syarat.
Di antaranya, tidak menuntut SK dinas dan tidak menuntut untuk diangkat menjadi PNS.
’’Itu jalan terakhir, kalau sudah memaksimalkan guru yang ada tapi tetap kurang,’’ katanya.
Ia memiliki dua GTT yang bertugas dengan SK kepala sekolah. MoU dengan sekolah lain untuk meminta bantuan guru juga pernah dilakukan.
’’Tapi guru tersebut diangkat jadi PPPK tahun lalu, jadi sekarang sudah tidak ada guru yang MoU,’’ bebernya.
Yoyok ingin penerimaan GTT dibuka untuk mengatasi kekurangan guru di sekolah.
Baca Juga: Hore! Guru TPQ di Jombang Tahun Ini Terima Insentif Lagi dari Pemkab, Segini Jumlahnya
’’Karena hampir semua kepala sekolah sambat kekurangan guru karena banyak yang pensiun,’’ ucapnya.
Jumlah guru yang pensiun selalu bertambah setiap bulan. Data dari BKPSDM Jombang rata-rata satu bulan ada 30 guru yang pensiun.
Januari, ada 33 guru SD dan SMP yang pensiun. (wen/jif/riz)
Editor : Achmad RW