Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Lokasi Dipilih Gus Miek Kediri, Dulunya Tanah Angker

M Nasikhuddin • Jumat, 27 Agustus 2021 | 17:05 WIB
Lokasi Dipilih Gus Miek Kediri, Dulunya Tanah Angker
Lokasi Dipilih Gus Miek Kediri, Dulunya Tanah Angker


TAMPILAN luar Musala Alqanaah di Kauman Peterongan sangat sederhana. Seperti rumah biasa. Tidak tampak menara atau kubah yang besar dan tinggi menjulang. Dari jalan desa, hanya terlihat atap yang bersusun dua.



Ketika masuk halaman musala, baru terlihat tampilan depan. Dominan kayu jati dengan ukiran kalimat toyibah. Pintu masuknya sempit dan rendah. Lebar hanya sekitar 60 sentimeter. Tinggi 150 sentimeter. Sehingga setiap orang yang masuk harus menundukkan kepala.



Di dalamnya, terlihat lapang, bersih dan indah sekali. Begitu masuk, serasa berada di serambi seluas 10 x 10 meter. Dindingnya terbuat dari kayu dipenuhi ukiran Asmaul Husna. Di sisi kanan terdapat dua makam yang masih kosong. Di sisi kiri terdapat dua makam. Yakni makam  Habib Alwi Alhaddad dan istrinya, Hj Rochimah.



Serambi dan ruang utama dipisahkan selasar selebar satu meter. Ruang utama berukuran 10 x 10 meter. Dinding terbuat dari keramik dan tembok. Pintu kayu dipenuhi ukiran kalimat toyibah. Atap musala terbuat dari genting dengan blandar kayu. ’’Musala ini berdiri 1993,’’ kata Habib Abdillah, 51, pemilik musala yang notabene putra Habib Alwi Alhaddad yang dimakamkan di sekitar musala.



Di dinding ruang utama, ada silsilah Habib Alwi Alhaddad hingga Rasulullah Muhammad SAW. Habib Alwi adalah keturunan ke-39 Rasulullah. Lengkapnya, Habib Alwi Alhaddad bin Ahmad Alhaddad bin Abdul Qodir Alhaddad bin Alwi bin Muhammad bin Ali bin Umar bin Muhammad bin Umar bin Alwi bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad Alhaddad bin Abi Bakar bin Ahmad Mastofa bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrohman bin Alwi bin Shabib Marbath bin Ali Khali Qosam bin Alei bin Muhammd bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Ar Rumi bin Muhammad Annaqis bin Ali Al Aridi bin Ja’far Shodiq bin Muhammad  Abidin bin Ali Zainul Abidin bin Husein bin Ali dan Fatimah binti Rasulullah Muhammad SAW.



’’Yang menunjuk lokasi ini dulu Gus Miek Kediri,’’ tambahnya. Rumah sang ayah, aslinya 100 meter arah timur musala. Begitu Gus Miek menunjuk lokasi itu sebagai musala, sang ayah, Habib Alwi, langsung membangun musala sekaligus makam. ’’Ketika pondasi dimulai, Gus Miek wafat,’’ ucapnya.  Gus Miek atau KH Hamim Tohari Djazuli wafat 5 Juni 1993 silam.



’’Abah belum wafat, sudah menyiapkan makam,’’ beber dia. Membangun Musala Alqanaah, sekaligus juga membangun makam. Saat itu, usia Habib Alwi masih 75 tahun. Habib Alwi meninggal tahun 2017, Senin 7 Dzulqo’dah dalam usia 99 tahun. Persis dengan hari dan tanggal wafatnya penyusun Ratibul Haddad, yakni Habib Abdullah Alhaddad. ’’Habib Alwi sangat cinta dengan 99 Asmaul Husna. Makanya usianya juga 99,’’ terangnya.



Ia menyebut, dulu tanah musala angker. ’’Orang yang menebang pohon sempat lari ketakutan karena merasa didatangi orang-orang berjubah,’’ jelasnya. Adapun amalan yang dilakukan sang ayah memang ratibul haddad. Setiap habis Magrib, Habib Alwi mengumpulkan orang diajak baca Ratibul Haddad lalu diberi makan.


Usai Habib Alwi wafat, amalan itu diteruskan Habib Abdillah tiap Senin malam. ’’Setiap Senin malam, ada pembacaan Ratibul Hadad dan maulid. Kamis malam Yasin dan tahlil,’’ pungkas dia.


Editor : M Nasikhuddin