Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Ngoro Airfield yang Kini Jadi Lapangan Badang, Saksi Perang Dunia II

Rojiful Mamduh • Senin, 19 Oktober 2020 | 19:13 WIB
Kabupaten Jombang ternyata pernah punya sejarah kepemilikan lapangan
Kabupaten Jombang ternyata pernah punya sejarah kepemilikan lapangan


JOMBANG – Kabupaten Jombang ternyata pernah punya sejarah kepemilikan lapangan terbang Ngoro Airfield. Lapangan terbang ini sempat jadi saksi bisu perang dunia II antara blok timur dengan sekutu. Kini, jejaknya nyaris tak bersisa setelah fungsinya berubah jadi lapangan olahraga.



Lapangan itu berada di Dusun Sukotirto, Desa Badang, Kecamatan Ngoro. Dari data yang berhasil didapat Jawa Pos Radar Jombang, lapangan terbang ini dibangun pemerintah Hindia Belanda sekitar 1937. “Jadi fungsinya memang disiapkan untuk perang dunia II, karena tahun-tahun itu indikasi perang  akan dimulai. Dibuat militer Belanda,” ucap Tuntun Ari Wibowo pembina aeromodeling yang sering menggunakan lapangan terbang Ngoro, Sabtu (17/10/2020).



Sebagai lapangan terbang dengan klasifikasi airfield, fasilitas sebenarnya cukup memadai. Selain landasan yang halus dan baik, sejumlah fasilitas hanggar dan menara pantau juga sudah ada. “Tapi bentuknya memang sederhana, bahkan bisa dibongkar pasang, karena lapangan terbang ini dibangun dengan tujuan dirahasiakan,” tambahnya.



Sebagai lapangan terbang milik sekutu, tak hanya Belanda yang pernah menggunakan. Sebut saja pesawat jenis P-40E Warhawk milik Amerika hingga pesawat pembom B-17 pernah juga diterbangkan dari lokasi ini. “Karena milik sekutu, otomatis militer Amerika, Australia juga pernah menggunakan,” tambah dia.



Ngoro Airfiled akhirnya jatuh ke tangan Jepang 1942 lalu, setelah pasukan sekutu kalah perang. Selanjutnya, lapangan terbang ini tercatat masih digunakan hingga masa setelah kemerdekaan. “Setelah kemerdekaan, lahan itu dimiliki Negara dibawah TNI Angkatan Udara,” tegas Solichudin Kades Badang.



Hingga 19900an, lanjut dia, lapangan terbang itu masih berfungsi meski tak digunakan untuk landasan pesawat tempur kembali. “Yang saya tahu, sampai sebelum krisis moneter 1998 itu masih sering ada helikopter mendarat, jadi memang masih berfungsi,” ucapnya.



Namun, setelah masa krisis, lapangan terbang yang disebutnya sangat luas itu sempat terbengkalai. Hingga beberapa puluh tahun berikutnya, seluruh areal lapangan terbang sempat menjadi tegal dan areal pertanian yang disewakan.


“Baru 10 tahun belakangan ini, Pemdes Badang tidak punya lahan untuk lapangan olahraga, kita dipinjami pihak TNI AU untuk memanfaatkan lahan eks lapter itu,” pungkas dia. (riz/jif)


Editor : Rojiful Mamduh