Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal di Polres Jombang, Hikmah Puasa dan Rahasia Autofagi

Anggi Fridianto • Kamis, 12 Maret 2026 | 08:17 WIB

 

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (10/3), Rois Syuriyah MWCNU Ploso sekaligus Ketua MUI Ploso, KH Ainul Yakin, menjelaskan manfaat puasa. ’’Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui,’’ tuturnya mengutip QS Albaqarah 184.

Kata ’’jika kamu mengetahui’’ memberi isyarat bahwa di balik puasa terdapat rahasia kebaikan yang baru dipahami manusia seiring perkembangan ilmu.

 

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.

 

Di zaman modern, ilmu pengetahuan mulai mengungkap rahasia luar biasa dari puasa. Seorang ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, meraih Hadiah Nobel tahun 2016 karena penelitiannya tentang Autophagy (Autofagi).

 

Autofagi berasal dari bahasa Yunani yang berarti ’’memakan diri sendiri.” Dalam proses ini, sel-sel tubuh akan membersihkan bagian yang rusak dan mendaur ulangnya menjadi energi baru ketika tubuh tidak mendapat makanan dalam waktu tertentu.

 

Proses ini membantu tubuh membuang racun dan sisa metabolisme yang tidak diperlukan.

Durasi puasa dari fajar hingga maghrib sekitar 12–16 jam, waktu yang secara ilmiah juga dianggap cukup untuk mengaktifkan proses autofagi dalam tubuh.

 

Diriwayatkan bahwa seorang tabib pernah bertanya kepada ulama besar Ibn Qayyim al-Jawziyya tentang puasa. Ibnu Qayyim menjawab: Puasa adalah penjaga kesehatan hati dan tubuh. Ia membersihkan tubuh dari kelebihan makanan sebagaimana api membersihkan logam dari kotorannya.

 

Tabib itu pun berkata bahwa ilmu kedokteran modern mulai membuktikan kebenaran nasihat para ulama tersebut.

Puasa juga berfungsi membersihkan jiwa dari sifat-sifat buruk seperti tamak, sombong, dan keras hati.

Rasulullah bersabda: Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.

 

Ini menunjukkan bahwa hakikat puasa adalah penyucian jiwa, bukan sekadar menahan lapar.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani berkata: Puasa bukan hanya menahan perut dari makanan, tetapi juga menahan hati dari dosa dan menahan anggota tubuh dari maksiat.

 

Seorang wali bernama Ibrahim ibn Adham pernah ditanya: Mengapa doa kami sulit dikabulkan?

 

Beliau menjawab: Kalian mengenal Allah tetapi tidak menaati-Nya, kalian membaca Alquran tetapi tidak mengamalkannya, dan kalian makan rezeki-Nya tetapi tidak bersyukur.

Kemudian beliau menasihati mereka agar memperbaiki ibadah, memperbanyak puasa, dan membersihkan hati. Setelah itu masyarakat mulai memperbaiki amal mereka, dan kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Puasa melatih manusia untuk menahan hawa nafsu, baik dari makan, minum, maupun perbuatan yang dilarang. Dengan menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal di siang hari, seorang muslim belajar meninggalkan yang haram.

Rasulullah bersabda: Puasa adalah perisai. Pelindung dari dosa dan dari api neraka.

 

Puasa melemahkan syahwat sehingga hati menjadi lebih mudah menerima cahaya petunjuk.

Seorang pemuda datang kepada Hasan al-Basri. Dia mengeluh sulit meninggalkan maksiat. Hasan Al-Basri berkata: Perbanyaklah puasa. Sesungguhnya puasa melemahkan syahwat dan membersihkan hati.

 

Pemuda itu pun rajin berpuasa sunah. Beberapa waktu kemudian ia datang kembali dan berkata bahwa hatinya menjadi lebih tenang dan mudah meninggalkan dosa. Inilah salah satu bukti bahwa puasa mendidik jiwa menuju ketakwaan. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #polres jombang #Binrohtal