Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Surah Al-Kafirun dan Pelajaran Berprinsip: Jangan Tukar Iman dengan Toleransi

Rojiful Mamduh • Sabtu, 20 Desember 2025 | 14:24 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

Dalam al-mushaf, surah kaji ini berada setelah surah al-Kautsar yang membicarakan anugerah Tuhan yang tak terbatas. Wajar bila Sang Dia memerintahkan hamba-Nya menyembah hanya kepada-Nya. Itung-itung sebagai ucapan terima kasih, meski tidak begitu kehendak Tuhan.

Gusti Allah gak pamrih. Bah iman.., bah..kafir tetep diberi kenikmatan duniawi. Bagi-Nya, memberi adalah sifat-Nya. Soal gelem beriman atau tidak itu soal lain. Nah, surah al-Kafirun ini mengunggah kelicikan wong kafir merayu Gusti kanjeng Nabi Muhammad sollallahu alaihi wa sallam bergantian menyembah Tuhan masing-masing. Hari ini wong kafir menyembah Allah Ta'ala, tapi besoknya ganti wong Islam menyembah berhala mereka.   

Gak kesuwen, langsung disengap oleh Gusti Allah SWT dengan turunnya surah ini. Tidak boleh melakukan begitu, murtad. Sendiri-sendiri saja. Muslim harus punya prinsip. "Toleransi itu antar umat beragama”, dan bukan “Toleransi Beragama”.

Di dalam Alquran tidak ada nida’ “Ya Ayyuha al-ladzin kafaru.." (wahai wong kafir-kafir), hanya sekali, yakni pada surah al-Tahrim:7.

Tapi itu konteksnya di neraka, mencemooh mereka, bukan menyapa dan mengajak berbicara. Sebab wong kafir itu “dubleg and tuli”. Otak dan hatinya tertutup keangkuhan. 

Di Alquran tidak ada kata: ”Anta Kafir..” (kamu kafir), yo mesti ae. Sebab kata “anta” yang difirmankan oleh Tuhan, mukhatabnya pasti Nabi, lain tidak. Mosok nabi-Nya sendiri dikatakan "kafir”. Jika yang dimaksud adalah menohok orang kafir dengan kalimat “anta kafir“, memang tidak sopan dan tidak manusiawi.

Bajingan saja dipanggil ”hai bajingan, hai maling, koruptor“ tersinggung. Padahal dia bajingan tenanan. Pelacur dipanggil: ”Nggek begenggek..” juga mecicil dan melentos, padahal begenggek tenanan. Tapi itu tidak mutlak. Pada situasi tertentu dan menuntut ketegasan bersikap, maka boleh. "Hm..bajingan iki.. plok..plok”.

Kayaknya, surah al-kafirun ini nadanya seperti itu. Tuhan hadir dengan sikap tegas dan memberi pelajaran kepada umat Islam agar bertegas-tegas menyikapi mereka, meski menyinggung perasaan. Kok nyimuut, kita dituntut menjaga perasaan mereka, sementara mereka tidak menjaga perasaan kita.

 

Inilah ajaran berprinsip, sehingga muslim wajib hati-hati menjaga imannya. Jangan hanya karena toleransi, keimanan nyerempet-nyerempet kekufuran. Lalu, hukum mengucapkan “Selamat Natal”..?.

Tanyakan sendiri kepada keimanan Anda, mana paling hati-hati dan bernilai takwa: "mengucapkan atau tidak”.

Penulis pernah dengar, bahwa mereka – aslinya - tidak suka wong Islam masuk gereja, lalu salawatan. Mengganggu kekhusyukan ibadah.  Cuma kita saja yang sok dan "menyonyol-nyonyolkan diri”. Gimana jika grup paduan suara gereja masuk masjid menyanyikan lagu pemujian kepada Yesus (?).  

 Qul ya ayyuha al-Kafirun.

Qul, artinya: Wahai Muhammad, katakanlah. "Ya ayyuha al-kafirun." Wahai orang-orang kafir.. Itulah redaksi asli yang dipatok Tuhan sendiri, yang kemudian ditirukan oleh Nabi Muhammad sollallahu alaihi wa sallam secara persis dan diucapkan ke hadapan mereka. 

Jadi, memaki orang bersalah, menohok orang dituding sebagai "kafir”, pada dasarnya tidak boleh. Pakailah bahasa yang santun. Kecuali ada maslahah ke depan lebih nyata. Seperti demi mempertegas sikap, menyadarkan mereka dari kesalahan yang selama ini mereka lakukan. (Bersambung, in sya’ Allah).

Editor : Anggi Fridianto
#Toleransi #surah al kafirun #KH Mustain Syafii