SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (21/10), Ustad Wildan dari PP At Taufiq Sambong, menjelaskan pentingnya menahan marah.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya marah itu berasal dari setan, dan setan diciptakan dari api. Maka padamkanlah marah itu dengan wudu,’’ tuturnya.
Suatu hari, datang seorang laki-laki kepada Rasulullah. ’’Ya Rasulullah, berilah aku nasihat.’’ Rasulullah menjawab: ’’Jangan marah.’’ Ia mengulangi permintaannya, dan Rasulullah tetap menjawab, jangan marah, hingga tiga kali.
Ini karena marah merupakan pangkal dari banyak kehancuran, permusuhan, kebencian, pertengkaran, bahkan pembunuhan. Marah salah satu hijab terbesar antara seorang hamba dengan Tuhannya.
Termasuk sifat orang bertakwa dalam QS Ali Imron 134 yakni menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.
Rasulullah bersabda: Orang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.
Suatu kali, Ali bin Abi Thalib pernah ditantang duel oleh seorang kafir Quraisy. Saat musuhnya tumbang, ia meludahi wajah Ali. Ali segera mundur dan tidak jadi membunuhnya. Ketika ditanya mengapa, Ali menjawab: ’’Aku memerangimu karena Allah. Tapi setelah engkau meludahi wajahku, aku takut jika aku membunuhmu karena marahku, bukan karena Allah.’’
Inilah akhlak orang yang hatinya hidup: mampu mematikan marah karena Allah.
Suatu hari, Imam Hasan Al-Bashri pernah dihina oleh seseorang. Lalu beliau berkata: Selamat datang wahai orang yang diutus Allah untuk menunjukkan aib-aibku.
Ia tidak marah, bahkan bersyukur, karena merasa mendapatkan jalan untuk memperbaiki diri.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani ditanya muridnya, bagaimana cara menjadi wali? Beliau menjawab: ’’Matikan nafsumu. Padamkan marahmu. Redakan ujubmu. Tanggalkan keinginan-keinginan duniamu. Maka engkau akan melihat Tuhanmu.’’
’’Kita juga harus mematikan iri dan dengki,’’ kata Ustad Wildan. Dengki membuat seseorang menderita karena tidak suka melihat orang lain bahagia. Ini penolakan terhadap takdir Allah Ta’ala. Rasulullah bersabda: Hati-hatilah kalian dari hasad (dengki), karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.
Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu berkata: Tidak akan selamat hati seorang hamba sampai ia meninggalkan rasa iri terhadap orang lain.
Mematikan ujub, sombong dan kebanggaan diri. Rasulullah bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: Merasa lebih baik dari orang lain adalah pangkal kehancuran amal.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pernah berkata kepada muridnya: Jangan merasa lebih suci dari orang fasiq. Bisa jadi ia berdosa karena bodoh, sedangkan engkau berdosa karena sombong.
(jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto