RadarJombang.id - Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Dewan Pertimbangan MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, menjelaskan penyebab hati rusak.
’’Seorang tabiin, Imam Hasan Al-Basri radiyallahu anhu menyatakan, ada lima hal yang menyebabkan hati rusak,’’ tuturnya.
1. Sengaja berbuat dosa dengan harapan dapat tobat.
Orang seperti ini terus menunda tobat. Sehingga terus dalam kemaksiatan dan dosa.
Dia merasa umurnya panjang, padahal kematian selalu datang mengagetkan. Sebagaimana disebutkan dalam QS Al A’raf 34.
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
Orang seperti ini hatinya rusak sehingga susah menerima nasihat.
Dia terus melakukan dosa sehingga bisa mati dalam kondisi melakukan dosa alias suul khatimah.
Allah SWT sangat cinta dengan orang yang tobat. Makanya kita harus terus tobat. Baik tobat dari maksiat.
Inabah, tobat dari menjalankan ketaatan yang tidak sempurna. Misalnya salat tidak khusyuk.
Maupun aubah, tobat dari sedetik pun waktu yang terlewat tanpa ingat Allah SWT.
2. Menuntut ilmu tapi tidak mengamalkannya.
Ilmu tanpa pengamalan tidak berguna, karena buah ilmu adalah pengamalannya.
Dalam QS Fatir 28 disebutkan; Sesungguhnya yang takut kepada Allah SWT di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
Ulama adalah orang berilmu dan mengamalkan ilmunya.
Baca Juga: Toriqoh 304, Salat Ternyata Bermanfaat Mencegah Keluh Kesah, Ini Buktinya
3. Beramal namun tidak ikhlas
Orang-orang yang benar (siddiqin) adalah orang-orang yang beramal dengan ikhlas.
Sebuah amal bernilai benar jika diserta ikhlas. Amal ibarat jasad.
Sedangkan ikhlas adalah ruh. Ikhlas inilah yang membuat amal kita bernilai dihadapan Allah SWT.
Amal tidak ikhlas sama juga dengan bohong. Sidiq itu pangkal, sedang ikhlas merupakan cabangnya.
Imam Ahmad bin Hanbal selalu berdoa; Wahai Zat yang menunjukkan kepada orang yang bingung, tunjukkanlah aku ke jalan orang-orang yang benar dan jadikanlah aku ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang ikhlas.
4. Makan rezeki dari Allah, namun tidak bersyukur
Syukur yakni hati meyakini nikmat berasal dari Allah SWT.
Lisan mengucapkan alhamdulillah. Anggota tubuh beramal yang diridai Allah SWT. Serta membelanjakan hartanya pada jalan Allah SWT.
5. Tidak rida dengan pemberian Allah SWT
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berkata; Ridalah dirimu dalam menerima sesuatu yang sedikit dan bersungguh hatilah dalam sikap itu.
Niscaya kamu akan berpindah pada yang.lebih tinggi dan lebih baik.
Dengan perasaan senang itu, kamu akan bahagia, tenteram dan terpelihara, tidak merasa lelah di dunia dan akhirat.
Kemudian kamu akan meningkat lagi pada yang lebih kamu senangi.
Tanda Allah SWT rida yakni kita rida dengan apapun pemberian Allah SWT.
Warga toriqoh dibimbing zikir dengan kaifiyah dan haiah tertentu agar zikir mudah masuk ke dalam hati.
Jika zikir sudah masuk ke hati, maka akan akan bisa terus bertobat. Beramal dengan ikhlas.
Bisa mengamalkan semua ilmu. Bisa senantiasa bersyukur. Serta bisa selalu rida dengan apapun ketentuan Allah SWT. (jif/naz)
Editor : Achmad RW