Radarjombang.id – Angkutan desa (angkudes) di Terminal Ploso makin kehilangan penumpang. Di tengah gempuran transportasi daring dan kendaraan pribadi, sopir angkudes kini hanya mengandalkan pedagang pasar sebagai penumpang tetap.
Salah satunya Nuril Anam, 63, sopir angkudes asal Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan.
Sejak 1982, ia setia menarik angkudes. Meski tren pengguna jasa angkudes semakin sepi, ia tak punya pilihan lain kecuali bertaha. ”Kalau di usia seperti saya mau cari kerja susah,” terangnya.
Ia mengaku akan menjalani aktivitas sebagai sopir angkudes, meski penghasilannya tak pasti. Beruntung ia memiliki langganan tetap yang setiap harinya setia menggunakan jasa angkudesa. ”Kalau penumpang umum sudah jarang.
Untungnya saya punya langganan pedagang bunga dan sayur dari desa menuju Pasar Ploso,” ujar Nuril saat ditemui di Terminal Ploso, kemarin.
Rutinitasnya dimulai sejak pukul 02.00 dini hari. Ia mengantar tujuh hingga delapan pedagang ke Ploso, sebagian lanjut ke Pasar Ngimbang, Lamongan. ”Baliknya nunggu lama, karena sepi,” imbuhnya.
Terminal Ploso pun kian lengang. Dalam satu jam pengamatan, hanya angkudes milik Nuril yang sabar mengantre penumpang. Sebagian area terminal mulai dialihfungsikan jadi lapak pedagang. Plang trayek pun tampak berkarat.
”Yang penting bisa narik tiap hari. Walaupun nggak pasti dapat berapa, asal ada yang diantar jualan,” ucap Nuril.
Data Dishub Jombang mencatat penurunan tajam jumlah angkudes. Tahun 2018, terdapat 25 trayek aktif dengan 213 unit.
Kini, tinggal 8 trayek dengan 87 armada. Trayek tersisa mayoritas melayani pedagang pasar, seperti Jombang–Bilimbing–Gudo, Jombang–Ngoro, dan Jombang–Ploso–Tapen.(fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto