Di pematang sawah, empat ekor burung terbang bebas ke sana-kemari. Ketika terdengar peluit, empat ekor burung warna hitam-putih langsung mendarat di tangan orang yang memakai topi, dengan sarung tangan warna merah di tangan.
M Alif Yahya, warga Dusun Sunggingan, Desa Morosunggingan, Kecamatan Peterongan yang menjadi pawang atau pelatih burung tersebut. ”Ini burung kekep babi dan palo (pacific swallow) usia 1,5 bulan,” katanya mengawali perbincangan dengan wartawan.
Setahun terakhir, dia memang punya hobi melatih burung peliharaannya terbang bebas. Berawal dari keinginannya memiliki burung yang tidak hanya berada di dalam sangkar dan jinak. Namun bisa terbang bebas di udara.
Untuk melatih burung bisa jinak, butuh ketelatenan. Sebab, burung yang dilatih harus baru saja menetas. Tak peduli burung apa, entah burung kicau maupun jenis yang lain. ”Sebenarnya semua burung bisa dilatih free fly, cuma harus sejak kecil. Minimal usia tujuh hari setelah menetas,” ujar lelaki berusia 27 tahun ini.
Burung kekep babi dan palo misalnya, di dapat ketika bulunya belum semua tumbuh. ”Sejak usia tiga minggu mulai dilatih. Pakai peluit lalu burung pindah ke tangan baru diberi makan,” ujar Yahya.
Itu dilakukan agar burung benar-benar jinak kepada tuannya. Baru ketika seluruh bulunya tumbuh atau usia 1,5 bulan, burung dilatih terbang bebas di udara. ”Pokoknya sudah bisa terbang itu mulai dilatih skill free fly,” sambungnya.
Ia melihat ada banyak skill burung free fly. Mulai dari air attack atau memangsa makanan di udara, luring atau menangkap mangsa atau makananya di tangan. Kemudian diving burung terbang dari atas langsung meluncur ke bawah memangsa makan yang berada di tangan. ”Jadi burung itu respons ke peluit sama glove atau sarung tangan,” tuturnya.
Menurutnya, peluit dan sarung tangan menjadi faktor penentu. Sebab, sejak diberi makan usia tujuh hari, makanannya harus menggunakan dua peralatan. Tujuannya supaya burung terbiasa dengan suara dan sarung tangan saat dilatih skill free fly. ”Untuk sarung tangan harus terang seperti warna hijau, kuning atau merah,” terangnya.
Selain menjadi hobi, burung yang dilatih menguasai skill free fly ternyata berpengaruh pada harga jual. ”Harganya lebih mahal kalau bisa free fly,” ujar Yahya. Burung kekep babi miliknya, saat menguasai beberapa skill dijual dengan harga ratusan ribu rupiah. ”Usia tiga bulan Rp 250 ribu-Rp 300 ribu, tergantung jenis burung dan skill-nya,” pungkas Yahya. Editor : Achmad RW