RadarJombang.id – Kajian Ramadan yang digelar Pusat Studi Qur’an Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Selasa (10/3), mengangkat tema Cyberbullying & Kesehatan Mental: Membangun Ruang Komunikasi yang Sehat dan Aman.
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Unipdu, Dr Hj Masruroh Hasyim S.Kep Ns M.Kes menjelaskan, perkembangan teknologi memberi kemudahan dalam berkomunikasi. Namun jika tidak digunakan secara bijak, ruang digital justru memicu munculnya cyberbullying.
“Di era digital saat ini perilaku bullying sangat mengganggu kondisi psikologis seseorang. Fenomena ini banyak terjadi melalui media sosial dan trennya terus meningkat,” ujarnya.
Masruroh memaparkan, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan satu dari lima hingga enam orang pernah mengalami cyberbullying. Korbannya tidak hanya remaja, tetapi juga orang tua dan anak-anak.
Di Indonesia, hasil riset menunjukkan sekitar 50 persen remaja pernah menjadi korban cyberbullying. Sementara sekitar 40 persen lainnya justru terlibat sebagai pelaku. “Ini harus menjadi bahan introspeksi bersama. Teknologi seharusnya menjadi alat yang memberi manfaat dan memperkuat informasi positif,” jelasnya.
Ia menegaskan, cyberbullying termasuk bentuk kekerasan psikologis. Kasusnya paling banyak terjadi melalui platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook.
Masruroh mencontohkan kasus yang sempat menimpa seorang remaja asal Jombang. Remaja tersebut mendapat perundungan massal setelah mengunggah vlog yang mengejek sebuah pusat perbelanjaan di Malang sebagai mall terkecil.
“Dampaknya tidak ringan. Korban bisa menarik diri dari lingkungan sosial bahkan mengalami gangguan kesehatan mental,” katanya.
Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran dalam menggunakan teknologi. Salah satu langkah penting yaitu meningkatkan literasi digital. “Setiap informasi yang diterima perlu difilter. Apakah bermanfaat, apakah menginspirasi, dan apakah layak disebarkan. Empati juga harus dikedepankan saat berkomunikasi di ruang digital,” paparnya.
Baca Juga: Kajian Ramadan di Unipdu Jombang: Transaksi Non-Tunai, Paylater dan Pinjaman Online
Masruroh menambahkan, cyberbullying bisa muncul dalam berbagai bentuk. Mulai menyebarkan hoaks, mengolok-olok seseorang di media sosial, hingga mengucilkan seseorang dari grup percakapan.
Ia mengajak masyarakat memanfaatkan momentum Ramadan sebagai sarana memperbaiki perilaku dalam berkomunikasi. “Ramadan bisa menjadi detoksifikasi dari komentar yang tidak bermanfaat. Harapannya, kita mampu membangun ruang komunikasi yang sehat sehingga tercipta kesehatan jiwa dan pribadi yang lebih produktif,’’ ucapnya. (ang/jif)
Editor : Anggi Fridianto