Oleh: Ahmad Subhan SPdI (Guru Diniyah dan Fikih SD Islam Tebuireng Ir Soedigno Kesamben)
Akhir Ramadan bukanlah sekadar hitungan mundur menuju hari kemenangan. Melainkan sebuah fase krusial yang menentukan nasib spiritual seorang hamba. Akhir Ramadan bukanlah tanda untuk mengendurkan semangat. Melainkan saat di mana "mesin" spiritual harus dipacu pada kecepatan maksimal. Ketika tiba akhir malam Ramadan, langit, bumi dan malaikat menangis karena adanya musibah yang menimpa umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Sahabat bertanya, musibah apakah ya Rasulullah? Rasulullah bersabda; Yaitu berpisah dengan bulan Ramadan, karena di dalamnya doa dikabulkan dan sedekah diterima.
Rasulullah memberi peringatan sekaligus kabar gembira bahwa sepuluh hari terakhir adalah fase itqun minan nar (pembebasan dari api neraka). Bagaimana seharusnya reaksi kita sebagai manusia dalam menghadapi momentum singkat yang menentukan ini?
- Belajar dari tangisan semesta alam.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, langit, bumi, dan para malaikat menangis saat Ramadan akan berlalu. Mereka berduka karena "musim ampunan" akan segera tertutup. Bagi para hamba yang pasti pernah atau masih terjatuh dalam kubangan dosa, fenomena ini pelajaran berharga tentang nilai sebuah kesempatan.
Jika malaikat yang tak berdosa saja menangis, bagaimana dengan kita? Para asatid dan ustadah dan pendidik terutama di SD Islam Tebuireng memiliki peran krusial untuk menanamkan rasa "rindu" ini kepada siswa sehingga momentum tahunan ini tidak disia-siakan begitu saja oleh anak didik. Bukan sekadar perayaan Lebaran yang diisi dengan baju baru, belanja dan persiapan duniawi lainnya, tapi mengajarkan siswa untuk merasa rindu akan kehilangan "pasar ampunan" atas perginya bulan di mana doa-doa mereka dikabulkan tanpa batas.
- Reaksi "ikat pinggang" dan kesungguhan batin.
Rasulullah memberikan teladan reaksi fisik dan mental yang luar biasa di akhir Ramadan. Beliau "mengencangkan ikat pinggang" (meningkatkan kesungguhan), menghidupkan malam, dan membangunkan keluarganya. Ini reaksi darurat spiritual.
Peran asatid, ustadah dan para pendidik sangat penting sebagai lentera penunjuk jalan pembebasan dari api neraka yang tidak datang secara otomatis. Di lingkungan sekolah, para guru adalah teladan. Contoh sikap para asatid dalam "mengencangkan ikat pinggang" ibadah di sepuluh malam terakhir akan menjadi cermin bagi para siswa.
Pembebasan dari api neraka bukanlah hadiah cuma-cuma yang datang karena kita sekadar berpuasa menahan lapar. Kebebasan itu harus "dijemput" dengan:
Taubat Nasuha: Menyadari bahwa api neraka adalah konsekuensi nyata dari dosa, sehingga muncul rasa takut yang produktif untuk memperbaiki diri.
Kualitas di Detik Terakhir: Seperti pelari maraton, kecepatan tertinggi justru harus dikeluarkan di garis finis. Doa-doa di penghujung Ramadan haruslah yang paling tulus, karena di situlah stempel "bebas dari neraka" diberikan.
Baca Juga: Akhlak Sosial dan Kepedulian Sesama
3. Reaksi siswa: Dari selebrasi menuju transformasi.
Umat muslim termasuk siswa-siswi SD Islam Tebuireng Ir Soedigno dididik untuk menjadi generasi yang berakhlak mulia. Euforia mereka di akhir Ramadan yang terkesan hanya sebuah perayaan kegembiraan melalui semarak alunan musik dan hujan kembang api seharusnya mulai bergeser ke arah yang lebih bermakna. Bukan sekadar menghitung hari Lebaran, tapi memperbanyak istigfar dan amal baik di tengah kesibukan dan kegiatan kegiatan sekolah.
4. Menjaga api semangat.
Ramadan adalah tamu agung. Mari hantar kepergiannya dengan istigfar terbaik, agar ia bersaksi di hadapan Allah bahwa kita adalah hamba yang layak menghuni surga. Kebebasan dari api neraka adalah ijazah tertinggi yang bisa diraih seorang mukmin. Di akhir Ramadan ini, mari kita bayangkan kesedihan para malaikat sebagai pengingat agar kita tidak lalai dan terlena. Bagi keluarga besar SD Islam Tebuireng Ir Soedigno, perpisahan dengan Ramadan harus diisi dengan doa kolektif: Agar asatid, ustadah, siswa, wali murid, dan seluruh staf sekolah termasuk dalam golongan yang namanya dihapus dari daftar penghuni neraka dan dicatat sebagai penghuni surga.
Jangan sampai Ramadan pergi tanpa meninggalkan jejak perubahan. Jangan sampai Ramadan berlalu, sementara kita masih menjadi pribadi yang sama. Mari kita akhiri dengan tangis penyesalan dan harapan, agar kelak kita tersenyum saat menghadap Sang Pencipta.
Editor : Anggi Fridianto