Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kualitas Hidup Masyarakat Sekitar Perkebunan Teh Wonosari

Achmad RW • Selasa, 12 Juli 2022 | 15:04 WIB
Opini Jawa Pos Radar Jombang
Opini Jawa Pos Radar Jombang
KEBUN teh Wonosari memiliki sejarah panjang sejak zaman kolonial Belanda,tepatnya berdiri pada tahun 1910. Kebun teh Wonosari merupakan kebun teh pertama di Jawa Timur yang bernaung di bawah perusahaan Belanda bernama NV.Culture Maathappy. Saat itu kebun teh ini ditanami teh dan kina.

Namun pada masa penjajahan Jepang, dengan misi swasembada pangan untuk jajahannya, sebagian tanaman teh diganti dengan tanaman bahan makanan pokok seperti singkong, ubi, kentang dan sejenisnya. Setelah terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang, perkebunan teh ini diambil alih oleh PT. Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII) sampai saat ini.

Malang pasti sungguh sangat termanjakan, tidak hanya dari wisata kuliner maupun wisata tempo dulunya, Malang juga memiliki wisata alam yang sangat menyejukkan mata dan pikiran seperti hal perkebunan teh Wonosari yang bisa dikatakan objek puncaknya di daerah Jawa Timur. Dengan kontur daerah Malang yang terletak di wilayah dataran tinggi tentunya cocok untuk mengembangkan tumbuhan pohon teh di sini, dengan lokasi yang terletak pada lereng Gunung Arjuno yang berada pada ketinggian 1.250 Mdpl dengan luas 1.144 hektare. Perkembangan dan aktivitas perkebunan teh Wonosari semakin meningkat sejak menjadi objek wisata. Dengan adanya objek wisata maka potensi ekonomi akan sangat semakin besar, di sekitar sektor perkebunan teh Wonosari adanya pedagang yang menjajakan berbagai makanan, minuman dan kerajinan tangan, menyediakan penyewaan kuda, alat transportasi dan berbagai jasa lainnya.

Untuk tenaga kerja di kebun teh Wonosari sendiri melibatkan masyarakat sekitar dari warga yang sudah berusia 17 tahun karena syarat bekerja di sana harus memiliki KTP, untuk warga yang berusia 50 tahun ke atas akan diberhentikan oleh penanggung jawab kebun teh wonosa$ri. Tenaga kerja tetap adalah karyawan perkebunan yang umumnya tinggal di perkebunan teh Wonosari, sedangkan tenaga kerja musiman berasal dari permukiman yang jauh dari wilayah Desa Toyomarto. Untuk penghasilan karyawan dihasilkan dari berapa kilogram karyawan yang memetik teh. Per kilogram teh diitung Rp 1.000. Bisa diperkirakan honor setiap pemetik sehari Rp 30 000 dan untuk gaji penyemprot kebun teh ada sendiri sehari Rp  50.000 dan untuk setiap Lebaran karyawan mendapat THR senilai Rp 100.0000.

Selain kebun teh yang berada di Desa Toyomarto terdapat warga yang menjalankan wirausaha ternak lebah yang menghasilkan madu. Nama pemilik ternak lebah adalah bapak Yanto usaha tersebut mulai berdiri pada tahun 2002. Jenis industri adalah industri tradisional bisa dibilang Home industry karena alat yang digunakan prduksi masih dibilang tradisional karena menggunakan alat exstraktor.

Kendala usaha ini saat musim hujan. Umunya musim hujan terjadi antara Juli hingga Desember. Untuk penghasilan per tahun sekitar Rp 500 juta untuk operasional kebun di Dusun Wonosari, Pasuruan, Jember, dan Bondowoso. Dalam mengoperasi pertenakan lebah ini dibutuhkan satu orang saja di setiap kebunnya. Untuk keuntungan pribadi dari kebun teh Rp 50- Rp 100 juta karena bapak Yanto belum menyusun manajemen keuangan dan produksinya secara tersusun. Untuk hasil produksi madunya dijual mulai harga Rp 80 ribu hingga Rp 150 ribu dengan ukuran botol 50ml-225ml. Untuk konsumen sendiri tidak hanya penduduk lokal saja, bapak Yanto sudah mengirim hasil produksinya hingga ke Bali. (*)

Penulis :

Kartika Hana R.N
Mahasiswa Ilmu Sosial dan Ilmu Politik prodi Sosiologi
Universitas Muhammadiyah Malang Editor : Achmad RW
#opini #Universitas Muhammadiyah Malang #mahasiswa #jawa pos radar jombang