Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Marina dan Tukang Kebun

A
Penulis: Anggi Fridianto❯
Photo
Photo

 


Advertisement

Penulis : Elsa Fatimaturrosida

(Jurnalistik Ink.Space SMA Muhammadiyah 1 Jombang)

“Wafatnya sebentar lagi, para dokter tak lagi mampu memberi apa-apa.”

Advertisement

Penyakit itu mengendap di dalam paru-paru yang kian termakan usia. Tak ada hari yang ia lalui tanpa obat yang membuat

muak. Perempuan itu sebatang kara meninggali

rumah gaya Belanda di ujung jalan.

Advertisement

Marina rapuh terbaring lara, bunga sedap malam mulai layu dimakan

waktu. Seperti dirinya. Menguning, tua, lalu mati, kembali

pada ibu bumi.

Marina ku, Marina kecil ku.

Marina semata wayang, diadopsi dengan penuh cinta dari panti asuhan di tengah kota.

Ketika ia berusia 60 tahun. Marina banyak menghabiskan waktu bersamaku, dengan

batuk yang mengkhawatirkan. Ia senantiasa menatap ke arah barat,

tanpa mengucap sepatah kata. Jemarinya diketukkan di meja, 7 kali di setiap duduknya.

Marina ku, badai apa yang ada di sana?

Lalu Tukang Kebun itu datang. Ia berkata bahwasanya dia kemari

karena diminta para tetangga untuk Marina renta, sebab tiada berkawan dalam

rumah besar sendirian. Aku tak percaya, namun apa daya.

Gadis ini menetap 7 menit setiap harinya.

dia selalu mampu melakukan semua hal dalam waktu sesingkat

itu.

Sejak 50 tahun, kesehatan Marina memburuk. Ia tak mampu bangkit dari kasur,

batuknya kian parah. Dengan bantuan

tetangga, mereka mendatangkan dokter kemari.

Marina mengidap tuberkulosis kronis.

Namun penyakit itu tak menghalanginya untuk kembali kepada ku. Marina selalu menghadap ke cakrawala dengan ketukan 7 kali dari

jarinya. Tukang kebun iba, namun Ia tetap datang setiap harinya.

Marina bercerita. “Aku menanti mega. Seorang muda berjanji

akan datang di sana.”

Apa yang kau nantikan, Marina?

Marina bangkit dari kasurnya, tertatih menghampiri dekapan ku. Tukang kebun ada di sisi ku, untuk pertama kalinya kami bersama-sama menemani Marina tua.

Mega kemerah-merahan menampakkan hilalnya.

“Marina… maaf membuatmu menunggu lama, Ku ingin engkau tahu bahwa Aku tak

pernah mati dan selalu ada di dalam jiwa mu.”

Marina berujar, “Sudah ku tahu sejak lama tentang hal itu. Aku

tak ingin membunuhmu. Kau berjanji akan datang ketika usia ku 60 tahun. Ku tunggu

sukma mu 7 tahun lamanya.”

Tak pernah ku dapati mendung se muram itu pada wajah Si Tukang Kebun.

“Ayah dan Ibu telah membunuh kita dari dalam, Marina. Kita hanyalah burung

dara yang sangkarnya dipercantik dengan bunga-bunga agar betah di dalam. Kita hanya

sebatas porselen keramik yang dipajang di ruang tamu. Dibersihkan bila perlu, dipuji

bila ada tamu. Karena itu aku membuat janji dengan Sang Esa untuk

menemanimu di usia senja.”

Mereka berdua saling genggam tangan di samping ku, kursi goyang kesayangan

Marina.

“Mega telah datang, Marina, Mari.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement
Editor : Anggi Fridianto

Artikel Terkait

Sastra Lama, Napas Baru: Ketika Klasik Menolak Mati

Sastra Lama, Napas Baru: Ketika Klasik Menolak Mati

Banyak orang diam-diam menganggap sastra lama hikayat, pantun, syair, hingga karya-karya era Balai Pustaka dan Pujangga Baru sudah tidak relevan dan hanya layak dikenang.

Final Lomba Mengarsir Media Koran 2026 Meriah, 126 Finalis Adu Kreasi di Pendopo Kabupaten Jombang

Final Lomba Mengarsir Media Koran 2026 Meriah, 126 Finalis Adu Kreasi di Pendopo Kabupaten Jombang

Final Lomba Mengarsir Media Koran 2026 hasil kerja sama Jawa Pos Radar Jombang dengan Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI Kabupaten Jombang berlangsung meriah, Sabtu (19/9). Kegiatan yang digelar

Umrah Rasa Haji

Umrah Rasa Haji

MUSIM haji telah selesai. Semua jemaah haji Indonesia telah kembali ke Tanah Air. Pemulangan berpusat di dua embarkasi utama, yaitu Jakarta dan Surabaya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer