Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Advertisement
Advertisement
Oleh: Martha Laurenzia Seco*)
Banyak orang diam-diam menganggap sastra lama hikayat, pantun, syair, hingga karya-karya era Balai Pustaka dan Pujangga Baru sudah tidak relevan dan hanya layak dikenang.
Advertisement
Anggapan ini keliru, bahkan semakin keliru di tengah derasnya arus digitalisasi.
Generasi muda memang lebih akrab dengan drama kolosal, cerita rakyat berbentuk webtoon, atau makna tersembunyi di balik lirik lagu.
Namun sesungguhnya sastra lama tidak sedang sekarat, ia hanya menyamar dalam wadah baru.
Struktur hikayat hidup kembali lewat cerita fantasi yang viral, sementara nilai kesetiaan dan pengkhianatan muncul lagi dalam serial-serial yang ramai diperbincangkan di media sosial. Yang berubah bukan isinya, melainkan bentuk penyajiannya.
Advertisement
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement



