JOMBANG – Kecamatan Mojoagung pernah punya sejarah berdirinya pabrik gula. Pabrik ini bernama Suiker Fabriek (SF) Sukodono. Hingga kini, jejak bangunan nyaris tak tersisa selain beberapa bangunan pendukung saja.
Dari data yang didapat Jawa Pos Radar Jombang di laman milik Belanda, pabrik ini tercatat tiga kali mengalami perubahan kepemilikan. Berdri kali pertama 1869, pabrik ini awalnya dimiliki Nederland Handelmaatschappij dengan administratur JJC Garon.
Tiga tahun kemudian, sekitar 1872, pabrik ini beralih kepemilikan kepada WA Baud dan berjalan hingga 12 tahun. Pada 1884, pabrik ini kembali beralih kepemilikan kepada Erven Baud/ DJ Jut en Factory. Dari beberapa foto yang didapat, pabrik ini terlihat cukup mewah lantaran memiliki fasilitas stasiun trem.
“Memang ada jalurnya, kebetulan pabrik ini juga dilewati jalur trem Oost Djava Stoomtraam Maatschappij (ODSM) yang menghubungkan Ngoro hingga ke Mojokerto,” terang Alfian Widi Santoso, pemerhati sejarah Mojoagung.
Dari penelusurannya, pabrik ini berdiri di lahan Terminal Mojoagung. Bangunan pabrik, menurutnya cukup megah lantaran punya sejumlah fasilitas olahraga mentereng. Mulai dari sport park, hingga pacuan kuda. “Kami berhasil menemukan dokumen koran di jaman kolonial yang menerangkan keberadaan lomba di pabrik gula ini,” tambahnya.
Sayang, hingga saat ini Alfian menyebut tak banyak benda yang bisa dijadikan saksi sejarah berdirinya pabrik ini. Penjarahan dan perusakan besar-besaran, tercatat pernah dilakukan masyarakat. Termasuk tentara republik pada bangunan pabrik, seperti kebanyakan pabrik lainnya.
“Data yang kami punya, pabrik ini terakhir beroperasi tak lama setelah kemerdekaan. Terbukti di foto tahun 1947, bangunan pabrik hanya meninggalkan kerangka,” imbuh pegiat komunitas Museum Mojoagung ini. Bahkan, water torren atau menara air yang dulunya berfungsi sebagai suplai air ke dalam pabrik gula, sempat dihancurkan tentara republik, meski akhirnya menara ini dibangun kembali dengan bentuk yang sama.
“Kalau selain water torren, yang masih tersisa beberapa rumah tua di sekitar terminal. Water torren meskipun bukan aslinya dan reruntuhan jembatan di belakang terminal,” pungkas mahasiswa Jurusan Sejarah Unair Surabaya ini.
Editor : Rojiful Mamduh