JOMBANG - Petani bawang merah di Kecamatan Plandaan, keluhan karena tak bisa menikmati subsidi pupuk juga disampaikan petani singkong di Kecamatan Diwek.
Akibat tak punya kartu tani, petani tak bisa beli pupuk subsidi. ”Kalau tidak punya, tidak dilayani untuk pupuk subsidi,” kata Slamet, salah satu petani di Desa Puton. Ada dua jenis pupuk subsidi yang kata Slamet termasuk yang dibutuhkan untuk tanaman singkong.
Di antaranya NPK dan Urea. ”Musim tanam kemarin pakai pupuk non-subsidi karena tidak punya kartu, harganya Rp 200 ribuan per sak,” lanjutnya.
Padahal jika pupuk subsidi pupuk, harganya lebih murah. ”Belum biaya tanam, biaya perawatan, dan biaya panen juga. Karena itu kalau ada subsidi kan lumayan, karena harga singkong saat ini murah. Hanya Rp 2.500 per kilo dari sawah,” imbuhnya.
Operasional dalam bentuk pupuk misalnya, untuk setengah hektare sawah diperlukan sedikitnya 2 sak. ”Paling banyak adalah pupuk NPK, kalau Urea cukup separuh dari kebutuhan NPK,” ujarnya.
Pernyataan sama juga disampaikan petani di Desa Sidowarek, Kecamatan Ngoro. Wachid, salah satu petani mengatakan, saat ini sudah dimulai musim tanam singkong.
Artinya, dalam waktu dekat dibutuhkan pupuk dengan volume cukup banyak. ”Sampai sekarang belum punya kartu, khawatir musim tanam ini tidak bisa dapat pupuk subsidi lagi. Karena musim tanam yang kemarin tidak bisa,” katanya.
Jika sampai pada musim tanam ini tidak bisa dapat pupuk subsidi, Wachid menilai operasional jelas membengkak. Sebab pemupukan wajib dilakukan petani saat padi berumur 7-10 hari. Pupuk yang digunakan adalah Urea dan SP-36. ”Karena harga pupuk subsidi dengan non-subsidi selisihnya separuh harga,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh