DALAM perjalanan pulang dari silaturahmi dengan bupati Sragen (Mas Sigit Pamungkas), tiba-tiba seorang wali santri yang berprofesi sebagai dokter dan pimpinan RS di daerahnya, menelpon.
Dia membahas putrinya kelas 9 yang akan menghadapi TKA dan kelanjutan sekolahnya.
Dia bilang bahwa saudaranya menyarankan agar putrinya melanjutkan ke pesantren keponakannya yang nyaman agar bisa belajar dengan fokus.
Pesantren, sejak awal kemunculannya, sejatinya merupakan ruang pendidikan yang kaya akan pembelajaran hidup kolektif.
Namun, perkembangan pesantren belakangan ini menunjukkan wajah yang semakin beragam, terutama dalam hal fasilitas dan latar belakang sosial santri.
Kini, tidak sedikit pesantren yang menawarkan fasilitas sangat nyaman, mendekati apartemen. Biasanya mereka tak lagi menggunakan nama pesantren tapi boarding school (BS).
Kamar santri rapi ber-AC dengan jumlah penghuni yang dibatasi kurang dari hitungan jari. Sehingga biaya pendaftaran dan pendidikan jadi relatif mahal. Konsekuensinya, latar belakang sosial santri menjadi lebih homogen.
Karena hanya wali santri menengah ke atas yang bisa mendaftar. Pesantren jenis ini tentu memiliki keunggulan: suasana belajar kondusif, privasi terjaga, dan asupan gizi lebih terjamin.
Di sisi lain, masih banyak pesantren yang bertahan dengan format lamanya. Biaya masuk terjangkau, fasilitas sederhana.
Satu kamar biasanya diisi belasan hingga puluhan santri. Mereka datang dari beragam latar belakang sosial ekonomi. Ada anak petani, pedagang, profesor, pejabat maupun kiai. Dengan membawa kebiasaan dan karakter yang beragam.
Mungkin dari kacamata modern dipandang kurang kondusif. Namun justru di ruang hidup yang heterogen inilah pendidikan soft skill berlangsung secara nyata.
Soft skill sebagaimana konsep UNESCO tentang 4 pilar pendidikan, adalah merujuk pada kemampuan non-teknis yang melekat pada kepribadian seseorang, seperti kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berempati, mengelola emosi, beradaptasi, dan menyelesaikan konflik. Berbeda dengan kemampuan akademik yang bisa diajarkan secara terstruktur di ruang kelas, soft skill lebih banyak tumbuh melalui pengalaman hidup sehari-hari.
Hidup bersama dalam keragaman memaksa santri belajar beradaptasi.
Perbedaan tidak bisa dihindari. Dalam sekamar, ada santri yang terbiasa rapi, ada yang cuek. Ada yang pendiam, ada yang gemar bercanda.
Gesekan kecil hampir pasti terjadi: soal kebersihan, antri mandi, suara gaduh ketika belajar, hingga urusan barang pribadi. Namun gesekan-gesakan kecil inilah yang menjadi sarana belajar yang sesungguhnya.
Santri belajar mengelola emosi, menahan ego, dan menyelesaikan masalah tanpa harus selalu menang sendiri.
Mereka belajar berkomunikasi, bernegosiasi, dan memahami sudut pandang orang lain. Proses ini tidak tertulis dalam kurikulum resmi, tetapi dampaknya sangat panjang. Inilah pendidikan karakter yang bekerja secara alami, tanpa disadari.
Sebaliknya, pesantren yang nyaman dan homogen memang memberikan keuntungan dalam hal konsentrasi belajar dan kebugaran fisik.
Namun lingkungan yang relatif homogen dan minim gesekan, berpotensi membatasi pengalaman sosial santri. Mereka tidak banyak berhadapan dengan konflik nyata yang menuntut kedewasaan emosi. Padahal, kehidupan di luar pesantren justru penuh kontroversi, perbedaan, ketidaknyamanan, dan situasi yang jauh dari ideal.
Tulisan ini tentu tidak bermaksud mempertentangkan pesantren berbiaya tinggi dengan pesantren sederhana secara hitam-putih. Keduanya memiliki peran dan kontribusi masing-masing.
Fasilitas yang layak dan nyaman tetap penting untuk menunjang proses pendidikan. Namun ketika kenyamanan menjadi orientasi utama, pesantren berisiko kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang pembentukan karakter yang tahan uji.
Maka, jika tujuan pendidikan adalah menyiapkan generasi yang matang secara intelektual sekaligus sosial dan spiritual, entitas pesantren perlu menjaga keseimbangan antara fasilitas dan daya tempa.
Sebab, pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga pribadi yang tangguh dan mampu hidup bersama orang lain dalam aneka kondisi.
Untuk itu, kehadiran pesantren yang mampu memadukan antara kelayakan fasilitas pendidikan dengan keterjangkauan biaya, akan menjadi pesantren yang sangat berkontribusi dalam melahirkan alumni yang berilmu sekaligus ber-soft skill.
“Lalu, putrinya akan melanjutkan kemana, dok.?”, tanya saya. “melihat perbedaan sikap dan perilaku anak saya dengan keponakan saya itu, saya lebih mantab anak saya tetap melanjutkan di Jombang” ucapnya mengakhiri percakapan.
Wallahu-a’lam bishawab.
Editor : Anggi Fridianto