Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Dirintis Komunitas Tiong Hoa, Sempat Ibadah di Rumah Warga

Rojiful Mamduh • Sabtu, 19 Maret 2022 | 00:17 WIB
Photo
Photo
JOMBANG - Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jombang menyimpan sejarah panjang perkembangan agama Kristen. Sebelum dikenal dengan nama GKI Jombang, gereja yang terletak di Jl Buya Hamka ini sempat dikenal dengan nama Kumpulan Sembahyang Kristen hingga Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) Pos Jombang.

”Kalau ditanya awalnya, sebenarnya ibadah sudah mulai dirintis komunitas Tiong Hoa di Jombang sejak tahun 1943, namun saat itu belum ada bangunan permanen,” terang Pdt Diah Nooraini Kristianti.

Saat itu, lanjut Pdt Diah, ibadah dilakukan di salah satu rumah jemaat bernama Tjio Gie Tik. Lokasinya di Jl KH Wahid Hasyim. Saat itu, peribadatan juga masih dilayani pendeta dari gereja lain. ”Jadi awalnya dulu pelayanan ibadah dan kebaktian dilakukan beberapa pendeta dari GKJW,” lanjutnya.

Dalam perkembangannya, jumlah jemaat terus bertambah. Kegiatan peribadatan mulai menempati sebuah gedung di jalan kelenteng, yang sekarang disebut Jl RE Martadinata. ”Namanya juga berubah menjadi Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) Mojokerto Pos Jombang,” imbuh Diah.

Nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee berarti Gereja Kristus Tiong Hoa dalam bahasa Indonesia. ”Dan sekitar tahun 1957, kami resmi memiliki pendeta pertama untuk THKTKH Pos Jombang, yakni Pdt Lie Tie Jong,” lanjut Pdt Diah.

Gereja ini terus berkembang. Pada pertengahan 1960-an, nama gereja ini berganti kembali, yang awalnya THKTKH Jatim, berubah menjadi GKI Jatim. Hal ini dilakukan pada sidang Sinode ke-7 di Bondowoso kala itu. ”Dengan itu, nama THKTKH Jombang juga berganti menjadi GKI Jombang,” tambahnya.

Bahkan, di tahun 1967 mulai dirintis pembangunan gedung awal GKI Jombang di Jl Slamet Riyadi 2 yang sekarang Jl Buya Hamka nomor 4. ”Gedung ini, akhirnya rampung dan mulai digunakan secara resmi tahun 1972,” imbuhnya.

Selanjutnya pada 2012, gereja ini kembali direnovasi. Selama enam tahun, Diah menyebut seluruh jemaat saling bahu-membahu menyumbangkan apa yang mereka punya untuk membangun gereja yang lebih besar dan megah. ”Gedung baru ini akhirnya diresmikan 7 Oktober 2018 dalam kebaktian Minggu pagi,” pungkasnya.

 

Peribadatan Sempat Gunakan Bahasa Mandarin

SEMENTARA itu, karena ibadah awal dirintis komunitas Tiong Hoa, dulunya peribadatan yang dilakukan jemaat di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jombang sempat menggunakan bahasa Mandarin.

”Ya benar, jadi Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) adalah gereja dengan bahasa hokian, jadi ibadah di dalamnya menggunakan bahasa Mandarin dulu, karena akarnya memang Tiong Hoa kan,” ucapnya.

Tak hanya berlangsung di Jombang, peribadatan dengan cara serupa juga dilakukan sejumlah THKTKH di kota-kota lain di Jawa Timur. Perubahan fundamental, baru berubah setelah gereja ini berubah nama menjadi GKI. ”Salah satu alasan kami memilih menjadi GKI dan bukan GKT (Gereja Kristen Tionghoa ) adalah kesadaran bahwa kami adalah bagian dari bangsa Indonesia yang seharusnya meng-Indonesia,” ucapnya.

Perubahan ini, disebut Diah didasari kesadaran kolektif tentang ke-Indonesiaan jemaat di gereja ini. Tak hanya nama pada gereja, pola peribadatan pun perlahan mulai berubah. Kini, seluruh peribadatan di GKI Jombang disebutnya telah menggunakan bahasa Indonesia sepenuhnya. ”Beberapa GKI di kota lain ada yang masih melaksanakan secara hibrid, secara bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin, tetapi GKI Jombang bahasa Indonesia,” pungkasnya. Editor : Rojiful Mamduh
#Sempat Ibadah #Rumah Warga #Komunitas Tiong Hoa #Gereja Kristen Indonesia Jombang