RadarJombang.id - Budi Daya pisang cavendish mulai banyak dilirik petani yang tinggal di lereng Gunung Anjasmoro Wonosalam Jombang.
Salah satunya, tampak dari hamparan perkebunan pisang cavendish di Dusun Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam.
Di kebun milik Hadi Nurwanto, 38, misalnya, terdapat sedikitnya 4.000 pohon pisang yang tumbuh di lahan kurang lebih 4 hektare.
Hadi Nurwanto mulai tertarik membudidayakan pisang cavendish sejak 2021.
Kala itu, ia membeli bibit pisang sebanyak 2.500 batang yang di tanam di lahan sekitar 1,5 hektare.
"Setelah kita lihat prospek budi dayanya cukup menjanjikan, maka pada 2022 kita tambah lagi menjadi 4.000 batang di lahan 1 haktare dan di tahun 2023 kemarin kita terus kembangkankan di lahan lain sekitar 1 hektare lagi,” ujar dia.
Dijelaskan, pisang cavendish merupakan komoditas buah tropis.
Agar bisa menghasilkan hasil panen maksimal, pisang harus melakukan perawatan esktra.
Apalagi, pisang ini tak hanya menjual rasa, namun juga penampilan fisik buah.
Pisang cavendish adalah jenis pisang budi daya. Jika dirawat dengan benar, satu tandan bisa menghasikan 9-10 sisir.
"Namun, kalau perawatan kurang maksimal biasanya hanya sekitar 6-7 sisir saja per tandan,” papar dia.
Baca Juga: Prospek Budi Daya Vanili di Wonosalam Jombang yang Ternyata Cuannya Menggiurkan, Ini Buktinya
Adapun jenis pisang cavendish yang ditanam Hadi Nurwanto adalah CJ40 dan giant.
Jenis ini diyakini memiliki kualitas lebih unggul dibandingkan jenis lainnya.
Rasa pisang cavendish rata-rata sama. Rasanya manis dan teksturnya lembut.
"Namun yang membedakan adalah penampilan. Semakin mulus tanpa bercak, maka semakin mahal pula harganya,” tandasnya.
Di Wonosalam sendiri, tantangan bagi pembudi daya pisang cavendish adalah pada kelembaban udara.
Jika tidak telaten, maka pisang berpotensi terserang jamur. Untuk itu, pemberian pupuk organik untuk menambah nutrisi pada tanah serta pemberian fungisida perlu dilakukan.
Jenis jamur yang sering menyerang pisang cavendish adalah jenis sigatoka.
"Biasanya menyerang daun yang ditandai dengan bercak kuning dan cokelat, kalau dibiarkan itu nanti ada bercak-bercak hitam pada buahnya,” pungkasnya.
Sementara permintaan pisang cavendish di pasaran cukup tinggi. Untuk mencukupi permintaan di pasar tradisional saja, ia mengaku masih kurang.
”Untuk pemasaran sementara kita mampu mencukupi permintaan di Pasar Porong dan Tanjungsari Surabaya. Memang permintaan pisang cavendish ini cukup tinggi,” imbuhnya.
Harga pisang cavendish dipengaruhi kualitas. Harganya dibagi dalam beberapa kategori, mulai grade A, B, C, dan non-grade.
”Harganya mulai Rp 4.500 tergantung kualitas. Semakin bagus kondisi fisiknya, maka semakin mahal pula,” tambahnya.
Ia menambahkan, masa tanam pisang cavendish hampir sama dengan pisang pada umumnya.
Yakni dari 0 tanam hingga muncul ontong atau jantung pisang pertama sekitar 17 minggu.
”Namun, harus dengan perawatan yang baik. Misalnya disiram dan diberi pupuk secara rutin,” pungkasnya. (ang/naz/riz)
Editor : Achmad RW