RadarJombang.id - Bagi Anik Noerachini, pendidikan bagi seorang wanita sangat penting.
Sebab, ibu adalah induk pendidikan dalam keluarga. Generasi yang dilahirkan sesuai dengan kualitas pendidikan sang ibu.
”Kalau ibu pendidikannya terbatas atau masih rendah maka generasi yang dilahirkan dalam hal pendidikan akan kurang maksimal,” jelasnya.
Pendidikan yang dimaksud tidak harus duduk di bangku pendidikan formal, tapi juga bisa non-formal atau informal.
”Misalnya ibu belajar mengaji, ibu belajar berkreativitas, itu juga bagian dari pendidikan,” jelasnya.
Wanita kelahiran Surabaya, 11 Februari 1979 dan besar di Kabupaten Sidoarjo memulai pendidikan dasarnya di SDN Siwalanpanji, kemudian di SMPN 1 Buduran, dan SMAN 2 Sidoarjo.
Setelah tamat SMA, ia kuliah S1 di Unesa jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan lulus tahun 2002.
Setelah lulus kuliah, ia mencoba mengajar, mengikuti seleksi di Surabaya tapi ditempatkan di Jombang, tepatnya di SDIT Al Misbah Sumobito.
Di sana ia merintis SD, karena baru angkatan pertama yaitu baru kelas 1. Selama mengajar di Jombang, ia bertemu dan menikah dengan suaminya, Ridwan.
Pada 2005-2010 ia juga mengajar di SMP Khoiriyah Sumobito. Dan baru diangkat menjadi guru PNS di SMAN Jogoroto pada tahun 2010.
Saat itu keinginannya belajar kembali tumbuh. Setelah teman sesama gurunya ada yang menempuh pendidikan S2.
Baca Juga: Purnaning Wahyu Prabarini: Tingkatkan Profesionalitas Diri dengan Belajar
”Kebetulan ada kemudahan pendaftaran bagi kami yang bekerja, jadi masa kuliah hanya Sabtu dan Minggu sehingga tidak mengganggu waktu kerja,” ungkap ibu dua anak itu.
Ia kuliah S2 di Universirtas Muhammadiyah Surabaya jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan lulus tahun 2012.
Dua tahun kemudian ia dimutasi ke SMAN Mojoagung sampai sekarang. Di SMAN Mojoagung ia pernah diberikan amanah sebagai wakil kepala kurikulum.
Sekarang ia mengemban jabatan wakil kepala sarana prasarana di SMAN Mojoagung.
Pernah merasakan mengajar dari jenjang SD, SMP, dan SMA menurutnya masing-masing jenjang punya cara belajar yang jauh bereda.
Jika SD ia harus kreatif karena SD seluruh siswa bergantung pada guru.
Di jenjang SMA, ia cukup memberikan instruksi tanpa memberikan penjelasan panjang lebar.
Sebagai wanita karier, menurutnya ada kelebihan dan kekurangannya. Dari sisi finansial tentu wanita karier memiliki kelebihan, termasuk jaringan dan lingkungan kerja.
Tapi wanita karier kehilangan waktu yang cukup untuk anak. Namun, ia sebisa mungkin berusaha untuk dekat dengan anak.
Seperti menyiapkan makan ketika pagi, dengan cara belanja tiga hari sekali agar lebih efisiensi waktu.
Dan berinteraksi dengan masyarakat ketika sore mengajar ngaji, dibaan atau jamiyah khotmil Quran.
”Yang penting masih punya waktu untuk masyarakat, karena kita hidup berdampingan dengan masyarakat,” jelas warga Dusun Sedamar, Desa Talunkidul, Kecamatan Sumobito tersebut.
Baca Juga: Awalnya Gaya-gayaan, Ari Kusmiyati Akhirnya Malah Jatuh Cinta dengan Bahasa Prancis
Kepada anak-anak, ia tetap berusaha menjadi ibu yang baik. Ia menanamkan aqidah dan akhlak yang baik untuk kedua anaknya, yaitu Muhuhammad Isyrofuddin dan Ikana Dewi.
Penanaman karakter itu dilakukan melalui contoh, maupun nasihat yang sering ia berikan kepada anak-anaknya.
”Anak bisa menerima nasihat dan masukan dengan maksimal ketika menjelang tidur,” ungkapnya.
Meski memiliki waktu yang sedikit dengan anak, Ia tak ingin kehilangan waktu berharganya dengan keluarga.
Salah satunya dengan mengadakan agenda rutin, yaitu gowes dua minggu sekali, atau jalan-jalan dengan rute yang tak terlalu jauh dengan keluarga.
’’Karena yang bungsu ini tinggal di asrama, pulangnya dua minggu sekali, jadi jalan-jalannya seminggu sekali,” ungkapnya.
Kadang saat waktu libur, ia mengajak keluarga berlibur bersama.
”Pernah kita liburan ke Bali. Dengan cara itu saya bisa dekat dengan anak-anak," imbuhnya.
Menurutnya, hal itu juga dilakukan agar tidak kehilangan masa bersama anak-anak selagi mereka masih bisa jalan bersama.
"Karena semakin dewasa mereka akan semakin sibuk dengan temannya, atau ketika dewasa dengan keluarganya,” pungkas Anik. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW