JOMBANG – Dalam pandangan Dr Rika Paur Fibriamayusi SSTP MKP, pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi wanita.
Baginya, wanita adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Tingkat pendidikan seorang wanita sangat berpengaruh terhadap kemampuannya membina keluarga, merawat, dan mendidik anak.
”Menurut saya, wanita adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Semakin tinggi pendidikan wanita semakin luas kemampuannya mendidik anak,” kata perempuan yang kini menjabat kabid hubungan industrial dan persyaratan kerja di Dinas Tenaga Kerja Jombang.
Setelah lulus dari IPDN pada 2004, Rika ditempatkan tugas di Bappeda Jombang saat berusia 23 tahun.
Ia melanjutkan studi S2 di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Jurusan Kebijakan Publik dan lulus 2011.
Setelah menyelesaikan S2, ia mengambil program doktoralnya, Jurusan Ilmu Sosial di Unair dan lulus pada 2017.
Karya disertasinya mengangkat tentang anak-anak pidana.
Ia berkeliling dari satu lembaga pemasyarakatan (Lapas) ke lapas yang lain untuk melakukan deep interview dengan anak-anak yang berhadapan dengan hukum.
”Dari situ saya mendapat pelajaran yang sangat banyak sekali, yang mengubah sudut pandang saya tentang cara mendidik anak,” ungkapnya.
Ilmu tidak hanya tuntutan untuk jenjang karirnya. Baginya, ilmu yang mengubah pola pikir termasuk dalam hal mendidik anak.
Baca Juga: Sri Wilujeng: Guru Harus Ikhlas dan Sabar dalam Mengajar
”Saya punya sudut pandang jadi multidimensi,” jelas perempuan yang tinggal di Jl Empu Tantular, Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Jombang.
Lingkungan keluarga juga sangat mendukung dalam hal pendidikan. Bahkan suaminya, M Ronny Afriandie SSTP Msi yang memintanya untuk kuliah lagi saat itu.
”Kalau suami lebih senang membaca, sebetulnya beliau jauh lebih pintar dari saya, karena rajin membaca itu. Mungkin suami juga memiliki pandangan yang sama terkait betapa pentingnya pendidikan bagi wanita,” ungkapnya.
Dalam hal pendidikan, ia tak banyak menuntut kepada anak-anaknya.
Sebagai orang tua ia memberikan kepercayaan kepada anak-anaknya untuk memilih, namun tetap memberikan masukan dan arahan.
Yang terus ia tanamkan kepada anak-anak terutama kepada si sulung, Nayla Salsabilla Afriandie, jika pola pikir berpengaruh pada kualitas hidup.
Nayla kini duduk di kelas XII jenjang SMA. Saat masih duduk di kelas X, Nayla dibebaskan berekspresi, mengeksplor apa pun yang diinginkan.
Namun saat kelas XI mulai diarahkan, dan kelas 12 mulai memilih tanggung jawab, utamanya menentukan ke mana arah setelah ia lulus SMA.
”Kami arahkan untuk menentukan jurusan sesuai dengan yang dia inginkan, langkah yang akan dilakukan. Sekarang sudah mengerucut pada tiga jurusan, dia juga masih cari referensi ke kakak kelas,” ungkapnya.
Sementara kepada si bungsu, Nararya Shahfaraz Afriandie, karena masih duduk di bangku kelas 1 SD, tidak banyak yang ia ajarkan. Hanya disiplin dan jujur.
Mengajarkan anak untuk bisa terbuka, dan tidak menyudutkan anak ketika ada masalah.
Rika tak ingin anaknya kehilangan kepercayaan diri jika dirinya sebagai orang tua terlalu menyalahkan dan mencampuri permasalahan anak meski masih dini.
”Sekarangpun saya belum menjadi orang tua yang sempurna tapi saya punya referensi dari studi yang saya lakukan,” jelasnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW