”Saya bisa seperti sekarang ini bukan serta-merta saya raih dengan mudah, makanya saya sangat mensyukuri apa yang telah saya dapatkan sekarang,” jelas wanita kelahiran 11 Mei 1975 ini.
Sejak usia lima tahun, ia dan dua adiknya harus menjadi anak yatim. Hidup serbasederhana dengan seorang ibu single parents. Setelah lulus dari SMAN Kesamben pada 1993, ia tak bisa langsung kuliah.
Ia berjuang keras bekerja sebagai sales kosmetik, menjajakan produk ke sana kemari, demo produk dari RT ke RT. Ia menjalaninya dengan sabar. Karena sangat ingin kuliah, penghasilan yang didapatkan ia tabung.
Setelah sekitar setahun berjalan, ia memutuskan untuk mendaftar kuliah. ”Saya cari yang kuliahnya cepat, biar bisa segera daftar CPNS,” ingatnya.
Ia kuliah D1 di SPAG Surabaya mulai tahun 1994. Setelah lulus, ia melamar pekerjaan di Puskesmas Peterongan. Menurutnya, kala itu mencari pekerjaan dengan ijazah D1 ahli gizi tidak terlalu sulit. ”Karena dulu ahli gizi masih sangat jarang sekali,” jelasnya.
Ia langsung bekerja sebagai tenaga honorer yang hanya digaji Rp 15 ribu per bulan kala itu. Hingga pada 1997, ia menikah. Ia melahirkan putra sulungnya pada 1998. Sang anak berusia 5 bulan, ia mencoba peruntungan daftar CPNS di Kabupaten Sidoarjo.
Usaha pertamanya ini gagal. Setahun kemudian, ia mencoba lagi di Kabupaten Bojonegoro dan diterima. ”Saya ditempatkan di Puskesmas Sugihwaras, Bojonegoro,” katanya.
Selama dua tahun, ia pulang pergi Jombang-Bojonegoro, dua kali oper bus, dan satu kali ojek sejauh 17 kilometer. Setelah melahirkan putra kedua 2002, ia kemudian mengajukan pindah tugas agar bisa lebih dekat.
Usahanya berjalan mulus. Ia dimutasikan tugas ke Puskesmas Gunungsari, perbatasan antara Babat-Bojonegoro. ”Alhamdulillah lumayan dekat tidak perlu oper bus,” jelas fasilitator ASI tingkat nasional ini.
Karena ingin menambah ilmunya, ia kembali menempuh D3 di Akademi Gizi Surabaya tahun 2004. ”Jadi Senin, Selasa, Rabu saya kerja. Kamis, Jumat, Sabtu saya kuliah, dan harus tinggal di asrama,” kata ibu tiga putra ini.
Setelah menamatkan pendidikan D3, ia mengajukan pindah tugas ke Jombang. Usahanya membuahkan hasil. Pada 2007 ia pindah tugas ke Kabupaten Jombang, tepatnya di Puskesmas Tembelang. Berbekal ilmu D3 ahli gizi, ia membuat inovasi BERTABUR BINTANG (bersama tanggulangi balita gizi buruk).
Bekerja sama dengan kepala desa dan kader PKK, ia menjalankan program inovasinya itu. Setelah terbukti angka gizi buruk menurun, ia dinobatkan sebagai nakes teladan tingkat kabupaten tahun 2010.
Setahun kemudian, ia mendapatkan juara 2 nakes teladan tingkat provinsi. Pada 2012, ia melanjutkan pendidikan S1 gizi di STIKES Surabaya. Di tahun yang sama juga, ia dipindahkan tugas ke Dinas Kesehatan Jombang. Tak puas dengan ijazah S1, ia kembali menempuh pendidikan S2 Ilmu Gizi Masyarakat tahun 2015 di Universitas 11 Maret Surakarta.
Yuni sapaan akrabnya begitu senang menyalurkan ilmunya. Ia bahkan dengan sukarela memberikan ilmu yang ia miliki tanpa memikirkan imbalan yang akan diterima. Untuk mengembangkan dirinya, Yuni juga membuat buku Kader Penjaga 1.000 Harta. ”November 2022 saya diamanahkan sebagai Kepala Puskesmas Mojowarno, alhamdulillah saya sangat senang berbagi ilmu,” pungkasnya.
Kampanyekan Pesan Kesehatan lewat Kesenian Ludruk
Karakter Rusmini begitu melekat dengan diri Sri Wahyungsih. Terhitung sejak 2012, saat ia bertugas di Dinas Kesehatan Jombang, Yuni, sapaan akrab Sri Wahyuningsih didapuk sebagai pemeran Rusmini yang mendampingi Cak Besut. Rusmini digambarkan sebagai kader kesehatan yang menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat yang dikemas dengan gaya ludrukan.
”Awalnya dulu terpaksa melakukannya karena perintah, tapi sekarang menjadi suka karena peran yang saya bawakan membawa manfaat bagi orang banyak,” kata ibu tiga anak ini.
Pada beberapa momen, saat ia tampil sebagai Rusmini. Yuni menyampaikan pesan kesehatan. Menurutnya, pesan yang dikemas dalam bentuk ludrukan, ditambah dengan parikan-parikan di dalamnya, lebih efektif dan mengena kepada masyarakat.
Pesan yang disampaikan beragam. Misalnya, dalam materi ASI, ia akan menyampaikan apa pentingnya ASI, bagaimana cara memberikannya. ”Termasuk tentang stunting, sering kali saya bawakan dalam bentuk lelucon tentang pencegahan stunting,” bebernya.
Misal dengan cara mengingatkan kepada orang tua yang hendak cari mantu, tidak hanya disiapkan seserahan sesuai dengan adat yang ada, tapi juga ditambah dengan tablet tambah darah, memeriksa lingkar lengan agar bisa melahirkan bayi yang sehat dan tidak stunting. ”Kalau itu dikemas dalam ludrukan, itu sangat menarik. Meski hanya 10 menitan durasinya, tapi pesan akan sampai jika dibandingkan dengan masyarakat yang hanya membaca saja,” jelasnya.
Rusmini yang selalu digambarkan dengan kebaya merah, mengenakan kerudung hijau, memiliki tingkah yang humoris, ceria, dan lincah, tidak jauh berbeda dengan karakter Yuni sebenarnya. ”Prinsip saya semangat menebar manfaat melalui kemampuan saya, ilmu-ilmu saya,” katanya.
Pada kehidupan nyata, Sri Wahyuni juga dikenal dengan sosok yang energik dan lincah. Ia mengatakan, pikiran yang selalu positif, menjaga mood agar selalu baik, dan mengonsumsi makanan-makanan yang baik serta padat nutrisi.
Memiliki kegiatan yang padat, bahkan wara-wiri lebih dari dua kali dari Mojowarno ke Jombang kota membuatnya harus ekstra dalam menjaga kesehatan. Apalagi, ia memiliki riwayat hipertensi setelah melahirkan anak kedua pada 2002 lalu. Ia sering mengonsumsi minuman herbal, seperti jahe, kayu manis, dan sereh. Ia membuat banyak sekaligus untuk disimpan beberapa hari dalam kulkas. ”Itu yang jadi minuman sehari-hari saya, tidak hanya saya, suami juga ikut mengkonsumsi,” jelasnya.
Sementara untuk menjaga kesehatannya, ia juga rutin berolahraga. Dalam seminggu setidaknya tiga kali ia senam di rumah. ”Kadang ya jalan-jalan saja, atau mengikuti kegiatan olahraga di puskesmas,” pungkasnya. (wen/naz/riz) Editor : Achmad RW