JOMBANG - SEJAK dilantik sebagai Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jombang, 31 Juli 2024, Isawan Nanang Risdiyanto langsung memfokuskan perhatian pada pembenahan sistem data ketenagakerjaan.
Menurutnya, ketersediaan data yang akurat menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan dan peningkatan kualitas layanan publik.
Gagasan itu sudah muncul jauh sebelum dirinya memimpin Disnaker. Saat masih bertugas di Bappeda maupun Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Jombang, ia melihat pengelolaan data ketenagakerjaan masih perlu diperkuat.
Baca Juga: Awalnya Hanya Temani Istri Tes CPNS, Isawan Justru Lolos dan Kini Jadi Kepala Disnaker
”Ketika proses asesmen dan menyusun portofolio, saya melihat Disnaker belum memiliki database yang memadai. Bagaimana kita mau membuat kebijakan yang tepat kalau basis datanya belum ada. Karena itu, membangun database menjadi semangat utama saya,” katanya.
Berangkat dari kondisi itu, Disnaker Jombang kini menjalankan strategi transformasi layanan ketenagakerjaan berbasis digital dan terintegrasi. Konsep yang dikembangkan menitikberatkan pada penyatuan layanan dalam satu sistem yang terkoneksi dengan infrastruktur digital milik Dinas Kominfo.
Integrasi itu tidak menghilangkan fungsi dan kewenangan Disnaker dalam menyusun proses bisnis maupun kebijakan. Sebaliknya, sistem terpadu justru diharapkan mampu meningkatkan efisiensi layanan sekaligus memperkuat pengelolaan data.
Dari konsep itu diluncurkan platform Talenta (Transformasi Layanan Elektronik Ketenagakerjaan). Platform itu dirancang untuk mendukung berbagai layanan ketenagakerjaan secara daring, termasuk layanan yang berkaitan dengan tenaga kerja asing (TKA).
”Melalui Talenta, kami mulai membangun database yang lebih baik. Layanannya bisa diakses secara online sehingga pengguna tidak harus datang langsung. Dari Jakarta, Surabaya bahkan dari luar negeri tetap bisa mengakses dan memproses layanan yang dibutuhkan,” terangnya.
Selain mempermudah akses layanan, keberadaan sistem digital juga dinilai membantu pelaksanaan regulasi ketenagakerjaan, khususnya terkait pengelolaan tenaga kerja asing. Disnaker melakukan koordinasi dengan Kantor Imigrasi untuk memperkuat pengawasan sekaligus optimalisasi pendapatan daerah dari sektor tersebut.
Hasilnya, penerimaan retribusi yang berkaitan dengan tenaga kerja asing pada 2025 mencapai sekitar Rp 1,1 miliar. Angka itu meningkat dibanding sebelumnya yang berada di kisaran Rp 600 juta.
’’Alhamdulillah layanan yang lebih baik memberi kemudahan bagi masyarakat sekaligus berdampak positif terhadap penyusunan kebijakan dan peningkatan pendapatan daerah,” tuturnya.
Dalam menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara, Isawan mengaku berpegang pada prinsip bekerja sungguh-sungguh dan berupaya menjalankan setiap arahan pimpinan secara optimal.
Baginya, keberhasilan pekerjaan tidak hanya ditentukan kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan membangun komunikasi dan jaringan yang baik dengan berbagai pihak.
”Silaturahmi membawa banyak manfaat. Menambah teman, membuka peluang, dan mempermudah pekerjaan. Kemudahan dalam bekerja juga merupakan rezeki,” ungkapnya.
Banyak persoalan dapat diselesaikan lebih cepat ketika didukung kerja sama dan komunikasi yang baik. Karena itu, ia selalu berupaya menjaga hubungan dengan berbagai pihak agar pelaksanaan tugas dapat berjalan efektif.
”Kalau kita bekerja sungguh-sungguh dan didukung banyak teman, harapannya pekerjaan bisa selesai lebih cepat dari target yang ditentukan,’’ tegasnya. (fid/jif)
Editor : Anggi Fridianto