RadarJombang.id – Sukses Sudijono SPd MAP menapaki karier di dunia pendidikan dengan tekad yang kuat dan langkah penuh perjuangan.
Kepala SMAN Bandarkedungmulyo itu tumbuh dari keterbatasan serta pilihan-pilihan berat yang harus diambil sejak muda.
Justru dari situ, perjalanan panjangnya sebagai pendidik ditempa.
Sudijono lahir di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Nganjuk, pada 16 Desember 1966.
Masa kecilnya dihabiskan di desa tersebut. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Kepuh, lalu berlanjut ke SMP Negeri 1 Kertosono dan SMA Negeri 1 Kertosono.
Kehilangan ayah sejak kecil membuat hidupnya dan keluarga berjalan sederhana. Sejak remaja, ia sudah terbiasa berpikir realistis tentang masa depan.
”Sejak kecil ayah sudah tidak ada, tinggal ibu. Jadi setelah SMA itu saya banyak mikir, nanti hidup mau ke mana,” tutur Sudijono mengenang masa mudanya.
Lulus SMA pada 1985, keinginan kuliah sebenarnya ada. Namun kondisi ekonomi memaksanya berpikir ulang.
Di masa itu, cita-citanya justru mengarah ke dunia militer. Hingga suatu pengalaman spiritual di kelas 12 mengubah arah hidupnya.
”Waktu itu tidak sengaja saya buka buku di meja, terus ada tulisan kecil yang intinya menyuruh membaca Surat Al-Waqi’ah. Tidak ada guru, tidak ada yang nyuruh. Tapi saya merasa ini petunjuk,” katanya.
Sejak saat itu, ia rutin membaca Surat Al-Waqi’ah setiap selesai Magrib hingga lulus SMA. Tak lama berselang, jalan kuliah terbuka lewat program ikatan dinas guru.
Sudijono diterima di ITS Surabaya, jurusan D3 Kimia. ”Waktu itu kuliah gratis, malah dapat uang saku Rp 25 ribu per bulan. Ya dicukup-cukupkan,” ujarnya sambil tersenyum.
Untuk bertahan hidup di Surabaya, ia tak gengsi. Sejak semester tiga, Sudijono membuka les privat.
Ia mendatangi rumah-rumah siswa SMA favorit satu per satu. ”Itu benar-benar nekat. Tapi alhamdulillah bisa nambah buat hidup,” katanya.
Tiga tahun kemudian, pada 1988, ia lulus. SK pertama justru menempatkannya jauh dari Jawa, yakni SMA Negeri 1 Ternate, Maluku.
Namun penugasan itu belum ia ambil. Ia memilih mengajar di SMA YPM Surabaya sambil terus membuka les.
Kesempatan kedua datang pada 1 Januari 1991. Sudijono kembali mendaftar CPNS dan resmi ditempatkan di SMA Negeri 1 Soa Sio, Halmahera Tengah.
Kali ini, ia berangkat tanpa ragu. ”Waktu itu saya cuma lihat peta. Ternate kelihatannya kecil, Halmahera Tengah kelihatannya besar. Ya sudah, saya berangkat,” ujarnya.
Sembilan tahun ia mengabdi di wilayah kepulauan. Hingga konflik Maluku pecah pada 1998–1999, Sudijono mengajukan mutasi dan kembali ke Jawa. Ia mengajar di SMA Negeri 1 Patianrowo, Nganjuk.
Di Patianrowo, hidupnya mulai tertata. Ia menikah pada 2003 dan menetap di Desa Pecuk, Kecamatan Patianrowo.
Kariernya pun terus melonjak. Pada 2012, ia mengikuti seleksi kepala sekolah, meski tanpa ambisi besar.
Dari SMA Negeri Patianrowo, namanya justru lolos. Prosesnya panjang, mulai dari seleksi portofolio hingga tes LP2KS di Solo.
Sertifikat kepala sekolah diraihnya pada 2013. Penempatan resmi baru datang pada 2019. Ia ditugaskan ke SMA Negeri 1 Banyuates, Sampang, Madura.
Sekolah kecil yang harus bersaing dengan sekolah besar dan pondok pesantren. ”Sekolahnya hidup segan, mati tak mau,” kenangnya.
Setelah satu setengah tahun, ia dimutasikan tugas ke SMA Negeri Kabuh.
Hingga akhir 2022, Sudijono dipercaya memimpin SMAN Bandarkedungmulyo sampai sekarang.
”Kalau dilihat ke belakang, hampir semua perjalanan saya itu jauh. Tapi ya itu jalan hidup,” ujarnya.
(riz/naz)