RadarJombang.id - Bagi Mukani, inspirasi dari segala tulisan yang ia buat selama ini selalu datang dari keluarganya. Baik kedua orang tuanya maupun anak istrinya.
Kedua orang tua Mukani tidak tamat SD. Ayahnya Suhadak hanya bekerja buruh tani. Di samping membuka jasa tambal ban di depan rumah.
Sedangkan Damis, almarhumah ibunya, juga seorang buruh tani. Meski demikian, orang tuanya mendorong untuk terus mencari ilmu.
’’Karena orang tua sadar, akibat dari berpendidikan rendah, maka jangan sampai terulang kepada anaknya,’’ kenangnya.
Orang tuanya mengajarkan arti kerja keras. ’’Apa yang diinginkan, harus diperjuangkan sendiri, jangan berharap bantuan orang lain, apalagi orang tua,’’ imbuhnya.
Dari dunia pendidikan, dia mengenal literasi. Awalnya menulis karena terdesak faktor ekonomi. Hingga kini berlanjut menjadi hobi. ’’Tidak hanya memberi poin, tapi juga koin,’’ ucapnya.
Kuliah S-1 dan S-2 dia harus bertahan hidup di Surabaya. ’’Saya tidur di musala Baitul Jannah selama tujuh tahun, lokasinya depan Kejati Jatim,’’ ungkapnya.
Kebutuhan sehari-hari harus dicukupi sendiri. Mulai berjualan baju, tas, buku hingga gerobak air.
Konsistensi bergerak di dunia literasi diakui karena dorongan keluarga. Sekarang anak istrinya sudah paham saat di rumah dia masih membuka laptop. ’’Berarti ada deadline tulisan yang harus dikirim,’’ ujarnya.
Dia mengakui keluarganya menjadi inspirasi banyak tulisan. Saat mengalami kejenuhan menulis, dia akan bermain dengan anaknya. Tujuannya sekedar melepas penat.
’’Anak pertama baru mondok di Tambakberas, kemarin sudah minta buku-buku karya ayahnya untuk dibaca di pondok,’’ katanya.
Baca Juga: Slogan 'Halo Prend' Jadi Jurus Anas Burhani Makin Dekat dengan Masyarakat
Dia ingin agar generasi muda bisa mulai menekuni dunia literasi. Tentu dengan format yang menyesuaikan zaman milenial.
’’Literasi akan membuka mata kita untuk melek informasi, bukan sekedar canggih berteknologi. Dengan membaca kita mengenal dunia, dengan menulis kita akan dikenal dunia,’’ tegasnya. (riz/jif/riz)
Editor : Achmad RW