Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Harapan Veteran Bagi Pemuda: Walau Tidak Ikut Berjuang, Wajib Tahu Ceritanya

Achmad RW • Minggu, 6 November 2022 | 13:00 WIB
Mayor Art Purn Djuli, salah seorang veteran pembela, saat ditemui di kediamannya Desa Balongbesuk, Kecamatan Diwek, (5/11)
Mayor Art Purn Djuli, salah seorang veteran pembela, saat ditemui di kediamannya Desa Balongbesuk, Kecamatan Diwek, (5/11)
JOMBANG - Ada harapan tersirat dari para pejuang, termasuk veteran pembela dalam momen Hari Pahlawan yang akan diperingati Kamis (10/11) besok lusa. Anak-anak muda perlu mengetahui sejarah perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan NKRI.

"Meski mereka tidak ikut berjuang, minimal mereka tahu bagaimana ceritanya, untuk direnungi, diresapi, dan dibarengi dengan tindakan untuk menjaga NKRI," kata Mayor Art Purn Djuli, salah seorang veteran pembela, saat ditemui di kediamannya Desa Balongbesuk, Kecamatan Diwek, kemarin (5/11).

Menurut dia, untuk memperingati Hari Pahlawan, anak-anak muda perlu mengetahui sejarah. Mengetahui perjuangan para pahlawan untuk mempertahankan NKRI. Ia berpendapat, menjaga NKRI bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi canggih seperti sekarang. Dengan menjadi warga negara yang baik, dan belajar setinggi-tingginya.

Apapun profesinya, lanjut Djuli, jika digeluti dengan baik, maka hal itu salah satu upaya menjaga NKRI. "Seperti anak saya dua perempuan tidak ada yang mau menjadi ABRI, katanya cukup bapak saja. Mereka milih kuliah saya bebaskan, termasuk cucu, ada yang kuliah kedokteran hewan, ada yang hubungan internasional, jadi apa saja yang penting bermanfaat," tutur kakek lima cucu ini.

Saat Jawa Pos Radar Jombang bertandang ke rumahnya, Djuli sedang bersantai. Ruang tamunya rapi. Di semua sudut dinding, penuh dengan foto saat ia berjuang. Ada yang berada di dalam pesawat saat hendak terbang. Ada juga foto bersama seluruh pasukan yang ditugaskan dari Bogor.

Ditanya bagaimana perjuangannya dulu, dengan lantang ia menyampaikan pernah ditugaskan sebagai tentara pembela NKRI di Timor Timur, dan anggota pasukan pengamanan Wamena Papua. Jika dibandingkan 47 tahun silam. Saat ini Djuli bisa menikmati pagi hingga malam dengan penuh kedamaian.

Kini, Djuli tak lagi gagah. Cara dia berjalan juga tidak setegap dulu. Bicaranya juga tak selantang 50 tahun silam. Tapi semua memorinya sebagai veteran pembela masih rapi terekam dalam pikiran, maupun dalam dokumentasi. Lahir di Jombang, 15 Juli 1947, ia masuk ABRI 1965 dan mendapat tugas pertama di Jakarta, usai peristiwa G30S PKI.

Berlanjut 1966-1983 bertugas di Bogor untuk pengamanan. ”Saat itu Timor Timur masih bagian dari Indonesia, saya mendapatkan tugas operasi di sana,” ingatnya. Ia menyebut tugas militer rahasia negara. Saking rahasianya, ia tak memberitahu sang istri saat ditugaskan ke Timor Timur.

”Namanya daerah konflik, di sana ya sudah jadi makanan sehari-hari genjatan senjata, yang pasti selalu berdoa. Semoga pulang tidak hanya bawa nama,” kenang dia.

Setelah ditugaskan ke Timor Timur, sekitar 1977 ia ditugaskan ke Wamena Papua. Saat itu, masih banyak penduduk asli yang kurang terbuka dengan kedatangan tentara. ”Tugas saya di sana mengamankan negara, tapi situasi tidak seperti sekarang,” jelasnya.

Upayanya waktu itu mendekati masyarakat tidak sia-sia. Ia bergabung dengan camat dan guru yang sama-sama bertugas di sana. Pernah suatu ketika, lima dari 10 anggota pasukannya membuat lapangan untuk tempat bermain anak-anak sekitar Wamena. Sayangnya, niat baik itu kurang diterima. Satu tentara meninggal setelah dipenggal kepalanya. Sedangkan empat lainnya luka-luka.

”Saat itu saya sedang tidak berada di sana, jaraknya jauh, mungkin sini ke Tulungagung, untuk menuju ke sana naik pesawat misionaris Australia, isi empat orang,” jelas Djuli.

Setiap bertugas ke pedalaman, ia harus menjaga keamanan dirinya dengan anggota pasukannya. Untuk mandi saja, minimal harus bertiga, baik mandi di rawa-rawa atau sungai. ”Satu orang mandi, dua lainnya berjaga, intinya jangan sampai ke mana-mana sendiri,” ulasnya.

Begitu juga saat salat dengan fasilitas seadanya, ibadah menjadi keharusan yang tidak pernah ia tinggalkan. Berjaga bergantian dengan sesama teman menjadi salah satu cara, agar tetap beribadah dengan kusuk. ”Setiap ditugaskan ke pedalaman, selalu pasrah, hanya Allah yang tahu umur kita. Alhamdulillah masih diberikan keselamatan sampai sekarang,” ucapnya.

Sesekali ia mengenang, teman-teman seperjuangannya yang telah berpulang. ”Dari empat, ini saya, ini sudah meninggal, ini sudah meninggal, ini tidak tahu di mana,” kenangnya sambil menunjuk  salah satu foto yang terpajang.

Di rumah juga banyak kenangan. Mulai dari penghargaan Presiden, hingga catatan penerjunannya dari udara. Tercatat 41 kali ia terjun. Termasuk beberapa kali terjun di lubang buaya saat masih dalam bentuk hutan karet. Di rumahnya juga terdapat dua peluru meriam yang sudah ia modifikasi dengan kayu dan gambar. Peluru meriam itu kini bukan lagi senjata, tapi hiasan rumah.

”Saya angkatan darat, tapi wajib bisa terjun, agar siap ditugaskan di manapun dan dalam situasi apapun. Sampai sekarang parasut masih saya simpan untuk kenang-kenangan,” pungkasnya. (wen/bin/riz)

  Editor : Achmad RW
#veteran pembela #Jombang #Hari Pahlawan #Jelang hari Pahlawan #Pejuang