Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik. Terutama tentang pentingnya tidak menyerah menghadapi tantangan. ’’Telah Kau lemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; Segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku,’’ tuturnya mengutip Yunus 2:3.
Dalam pengiringan akan Tuhan tidak selamanya perjalanan yang kita tempuh mulus tanpa aral. Terkadang Tuhan izinkan kita melewati jalan gelap dan lembah-lembah kekelaman.
Kadang hidup terasa begitu berat. Masalah datang bertubi-tubi, entah dari keluarga, ekonomi, pekerjaan, atau pergumulan pribadi yang tidak selalu bisa kita ceritakan ke orang lain. Di titik tertentu, kita mungkin berpikir: ’’Aku sudah tidak kuat lagi.’’
Tapi justru di saat seperti itulah, kita diingatkan bahwa kekuatan kita bukan berasal dari diri sendiri.
Yunus, yang namanya berarti merpati harus mengalami masa-masa yang paling kelam dalam hidupnya yaitu berada di dalam perut ikan. Yang secara akal sudah tidak memiliki harapan untuk hidup karena sudah berada di dalam bayang-bayang maut. Ketika berada dalam kemustahilan dengan jiwa yang letih lesu, teringatlah Yunus kepada Tuhan dan menguatkan iman percayanya kepada Tuhan. Sebab ia tahu bahwa satu-satunya yang dapat menolong adalah Tuhan. "Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku." (Yunus 2:2).
Seringkali ketika keadaan buruk menimpa, dengan penuh kepanikan kita berusaha mengatasinya dengan akal dan kekuatan sendiri. Jika gagal, pikiran pun langsung tertuju kepada manusia yang kita harapkan dapat menolong. Hasilnya? Berharap kepada manusia pasti akan kecewa karena manusia penuh dengan keterbatasan.
Jalan terbaik adalah lari secepatnya kepada Tuhan! Datang, berseru dan ketuklah hati Tuhan dengan seruan yang lahir dari jiwa yang letih lesu. Berhentilah mengeluh, sebaliknya tetap ucapkan syukur untuk semua yang telah terjadi, seperti yang dikatakan Yunus: ’’Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari Tuhan!" (ayat 9).
Dengan mengucap syukur semangat yang padam menjadi pulih kembali. Iman yang sudah lemah dapat bekerja kembali. Ketika iman telah bangkit di situlah kuasa Tuhan akan dinyatakan. Karena musuh yang paling ampuh untuk memadamkan kuasa Tuhan adalah iman yang telah gugur. Sekalipun sudah berada dalam kegelapan yang terdalam dan tiada sinar cahaya menembus. Asal kita punya iman, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan: "...Berfirmanlah Tuhan kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat." (ayat 10).
’’Jangan menyerah, bukan karena hidup ini mudah, tapi karena kita tidak berjalan sendirian. Ada kekuatan yang lebih besar yang menopangmu, bahkan saat kita merasa lemah. Tuhan Yesus memberkati,’’ urainya. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto