Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Renungan Minggu 265, Tidak Ada yang Kebetulan di Bawah Pemeliharaan Allah

Rojiful Mamduh • Minggu, 12 Oktober 2025 | 14:05 WIB

 

Pdt Petrus Harianto, Sth, Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan
Pdt Petrus Harianto, Sth, Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan

Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin. Terutama tentang pentingnya meyakini tidak ada yang kebetulan di bawah pemeliharaan Allah.

’’Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti,’’ tuturnya mengutip (Ester 2:17).

Kitab Ester begitu unik, karena nama Allah tidak pernah disebutkan di dalamnya, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Allah tetap bekerja di balik layar, Allah memelihara umat-Nya, dan mengatur jalannya sejarah kehidupan. Banyak hal yang kita pikir itu kebetulan, tapi sesungguhnya itu adalah bagian dari rancangan-Nya yang sempurna.

Saat bangsa Israel dalam pembuangan, Ester keturunan Israel yang diasuh oleh pamannya Mordekhai, diangkat menjadi ratu Persia.

Suatu hal yang mustahil sebenarnya. Tapi itulah yang terjadi dan itu bukan suatu kebetulan.

Mordekhai, tanpa rencana besar, pernah menyelamatkan raja dari rencana pembunuhan, dan itu juga bukan suatu kebetulan. Catatan kecil itu tersimpan dalam kitab sejarah kerajaan, yang pada suatu hari tepat di malam ketika Haman merancang hendak menggantung Mordekhai, catatan itu dibaca oleh raja.

Semua tampak seperti peristiwa biasa, tetapi sebenarnya tangan Allah menenun semuanya itu menjadi karya pemeliharaan yang ajaib.

Ketika ancaman pemusnahan orang Yahudi diumumkan, Mordekhai menantang Ester untuk bertindak. Ester tahu risikonya besar, bahwa menghadap raja tanpa dipanggil bisa berarti hukuman mati. Namun ia memilih menyerahkan dirinya kepada Allah, ia mengucapkan kalimat yang menggugah iman sepanjang zaman:

’’Jika terpaksa aku mati, biarlah aku mati” (Ester 4:16). Itu bukan sekadar keberanian, melainkan iman yang percaya bahwa hidupnya berada dalam genggaman Allah.

Dan benar, Allah bertindak. Haman yang congkak itu digantung di tiang yang ia dirikan untuk Mordekhai. Orang Yahudi yang hendak dibinasakan itu justru beroleh kemenangan besar.

Ester yang lemah menjadi alat di tangan Tuhan, Mordekhai yang hina dimuliakan. Semua ini bukan kebetulan. Semua itu adalah bukti dari pemeliharaan Allah.

Kisah ini menyampaikan pesan bagi kita. Mungkin kita sedang menjalani hidup yang tampak biasa, atau justru berada di tengah pergumulan yang berat.

Kita mungkin bertanya-tanya, di mana Allah kok tidak menolong saya? Mengapa Ia seakan diam? Kitab Ester mengingatkan kita bahwa meskipun nama Allah tidak disebutkan, namun tangan-Nya tidak pernah berhenti bekerja.

’’Allah berdaulat mengatur jalan hidup kita, bahkan melalui hal-hal yang tampaknya kecil dan tak berarti. Dan semua itu tidak ada yang kebetulan. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Renungan #Radar Jombang