JOMBANG – Menjelang pecahnya perang dunia kedua 1 September 1939, pemerintah kolonial Belanda di Jawa Timur, membangun beberapa lapangan terbang (lapter) atau disebut juga lapangan udara (lanud) dengan kualifikasi untuk keperluan militer.
Misalnya lapangan terbang di Surabaya, Mojokerto, Madiun, Malang, Lumajang (Pasirian) dan Jombang (Ngoro).
Karena Belanda termasuk salah satu anggota dari blok negara Sekutu bersama Amerika Serikat, Inggris, Australia dan lainnya.
Lapter-lapter itu merupakan pengembangan dari lapter sebelumnya yang sudah ada maupun yang sengaja baru dibangun.
Klasifikasi lapter dimulai dari paling sederhana dimulai dari airstrip, airfield, airbase, hingga airforce base. Awalnya lapter di sini dibuat setelah ditemukannya teknologi pesawat terbang di awal tahun 1910-an.
Airstrip hanya berupa hamparan tanah lapang yang luas dengan permukaan yang diperkeras atau dilapisi papan kayu atau anyaman bambu.
Bentuk lintasannya hanya lurus dengan panjang tertentu sesuai jenis pesawat yang mendarati. Kemudian airfield setingkat di atas airstrip.
Bentuknya tidak hanya berupa lintasan lurus, tapi sudah ada beberapa pola lain. Airfield juga sudah mempunyai tempat tersembunyi atau kamuflase untuk menyamarkan lokasi penyimpanan pesawat.
Selanjutnya airbase adalah lapter yang sudah dilengkapi menara ATC (air traffic control) dan rambu-rambu udara untuk memandu pesawat yang akan landing dan take off.
Juga mempunyai hanggar permanen untuk menyimpan pesawat. Sedangkan airforce base menjadi kualifikasi tertinggi dari lapter.
Selain lebih luas dan mempunyai beberapa model lintasan, punya hanggar dan ATC permanen. Bedanya airforce base diperkuat dengan kubu-kubu pertahanan bersenjata anti serangan udara dari pesawat tempur musuh.
Dari dokumentasi foto udara MLD terlihat menara ATC-nya cukup sederhana dari bambu atau kayu. “Kalau rambu-rambu udaranya dari kain putih yang dihamparkan di tanah,” kata Moch Faisol, penelusur sejarah Jombang.
Penanda itu berfungsi memberikan panduan bagi pesawat yang ingin mendarat atau menjatuhkan suplai logistik tanpa mendarat. Berbentuk tanda plus (tambah) atau panah yang memandu arah lokasi droping-nya.
“Lapter Ngoro dibangun di Desa Badang, termasuk baru dengan kategori airfield karena hanya sebagai tempat transit,” terang Tuntun Ari Wibowo, pengurus olahraga aeromodeling yang juga penelusur sejarah klasik dan kolonial.
Dibangun menjelang akhir tahun 1940, lapter Ngoro mempunyai nama resmi Djombang South Airfield.
Dalam dokumen, pihak Sekutu juga menyebutnya Blimbing Airfield atau Ngoro Airfield untuk mengacaukan informasi intelejen. Hal ini untuk menyulitkan Jepang sebagai pihak musuh menemukan lokasinya.
Setelah pecah pertempuran antara Belanda melawan Jepang pada awal bulan Januari 1942, lapter Ngoro menjadi penting artinya bagi Sekutu. Sebab menjadi landasan transit pesawat tempur pemburu maupun pembom milik Amerika Serikat dan Australia.
Ia menyampaikan, sesuai laporan dinas intelejen Belanda Netherlands East Indies Forces Intelligence Service (NEFIS) pada 23 Januari 1942, data teknis lapter Ngoro tercatat rinci.
Lapter Ngoro terletak 12 km (8 miles) arah selatan tenggara (SSE = south-sout east) dari pusat kota Jombang. Atau 3 km (1,5 miles) arah barat laut dari pusat Ngoro. Dikelilingi oleh perkampungan dan beberapa rumah penduduk serta lahan persawahan padi.
Terletak di utara jalan besar yang bisa ditempuh dari jalur kereta api Mojokerto-Jombang (OJSM) dan Mojokerto-Kediri (KSM).
Berjarak 35 km (21 miles) dari gunung Arjuno dan Welirang serta 30 km (18 miles) dari pusat kota Mojokerto.
Halangan bagi pilot yang ingin mendaratkan pesawat berupa hamparan rumah penduduk yang letaknya menyebar di sekitar lapter.
Kondisi landasan cukup baik terdiri dari lapangan tanah liat dan permukaan rumput pada 13 Februari 1942. Berbentuk seperti huruf L. Panjang runway 1 membujur arah utara-selatan (1.000 m = 3.280 kaki).
Runway 2 membujur arah timur-barat (1.000 m = 3.280 kaki). Baik runway 1 maupun runway 2 mempunyai lebar yang sama yaitu 200 m (660 kaki).
Sementara daya tampung lapter Ngoro mampu menyimpan 3 pesawat pengebom (bomber) jenis Glen-Martin B-10 yang diparkir di sisi tenggara runway 1.
Kemudian 12 pesawat pemburu (fighter) Curtiss P-40 Warhawk diletakkan di bagian selatan sisi timur runway 2.
Direncanakan, lanjut dia, perluasan selanjutnya lapter Ngoro juga bisa menampung 30 pesawat pemburu lainnya.
Bahkan pihak Amerika Serikat menginginkan perluasannya hingga mampu menampung tambahan 36 pesawat pengebom selam Douglas A-24 Banshee dan 36 pesawat P-40 Warhawk.
“Meskipun lapter Ngoro tidak dilengkapi hanggar, namun tersedia gudang penyimpan bom dan amunisi,” lanjut Faisol.
Begitu juga radar pemantau lalu lintas udara sudah terpasang berupa satu set radar kecil dua arah serta sambungan telepon ke Ngoro dan Jombang.
Untuk mengisi bahan bakar pesawat yang transit di lapter Ngoro sebelum melanjutkan perjalanan ke lapter Malang atau Madiun, tersedia drum BBM. Sebab tidak tersedia stasiun pompa bahan bakar dan bengkel kerja maupun pembangkit listrik.
Informasi dari Letnan Winckel anggota skuadron ke-18 pesawat pemburu P-40 menyatakan, jika lapter Djombang South ini cukup sukses digunakan selama pertempuran sampai 7 Maret 1942 saat kota Jombang mampu direbut Jepang.
“Sebelum akhirnya pasukan Belanda benar-benar menyerah kalah pada 8 Maret 1942,” pungkasnya. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW