JOMBANG – Berdirinya pabrik dan kemajuan industrialisasi serta arus modal yang masuk ke Jombang sudah dimulai, pasca berakhirnya Perang Jawa (Perang Diponegoro) 1830. Bahkan, sewaktu afdeling Jombang masih menjadi bagian dari administratif Asisten Residensi Mojokerto.
Saat itu, wilayah Jombang hanya terdiri dari dua distrik. Yaitu distrik Mojorejo yang beribukota di Desa Jombang dan distrik Wirosobo (selanjutnya menjadi Mojoagung) yang beribukota di Desa Miagan.
Pemerintah kolonial Belanda butuh pemasukan untuk memulihkan kas negara yang hampir bangkrut karena membiayai perang melawan Pangeran Diponegoro (1825-1830).
Menurut Tjahjana Indra Kusuma, pemerhati sejarah dan cagar budaya di Jombang, dengan dibukanya lebar-lebar kran investasi di daerah baru, para pemilik modal mulai melirik berbagai area di Jombang sebagai perluasan usaha dari wilayah Mojokerto. Tidak hanya orang Belanda, para pengusaha Arab, Tionghoa dan Eropa daratan lainnya juga mulai berdatangan.
“Jika sebelumnya hanya berinvestasi di sektor perkebunan khususnya tebu, kini mereka bisa mendirikan pabrik penggilingan padi, tepung, serat rame (bahan karung goni), pabrik es, pabrik limun dan pabrik tegel,” katanya beberapa waktu kemarin.
Sekitar 1834, pabrik gula pertama didirikan di Jombang. Setelah proses pembangunan selama dua tahun, pada 1836 Suiker Fabriek (SF) Djombang resmi beroperasi.
Lokasinya di pinggir jalan raya pos (groote postweg). Sebuah ruas jalan besar layanan pos yang diduga sudah ada sejak masa pra kolonia bahkan era kalsik.
Jalan ini sebagai penghubung utama wilayah Karesidenan Surabaya di timur dengan Karesidenan Kediri dan Karesidenan Madiun di barat. “SF Djombang sengaja dibangun di tepi jalan arteri primer yang melintas timur-barat dari pusat kota (desa) Jombang,” bebernya.
Secara administratif masuk di wilayah Desa Pulolor, hanya beberapa puluh meter dari pasar tradisional. Sekitar 50 meter sebelah barat Pasar Legi Jombang.
Lokasi pabrik gula dipilih dekat dengan aliran sungai yang sekarang disebut Saluran Sekunder Gude-Ploso. Ketersediaan pasokan air sungai sebagai bahan baku, pendingin mesin giling pabrik dan pembuangan limbah cair menjadi pertimbangan utama.
Lalu, dekat dengan akses jalan raya untuk memudahkan pengangkutan bahan baku tebu dan pengiriman gula hasil produksi ke sentra penjualan gula dalam dan luar kota Jombang.
Sebab pada awal berdirinya SF Djombang, jalur kereta api belum ada, sehingga masih mengandalkan sungai dan jalan raya sebagai transportasi.
Tjahjana menerangkan, setelah itu menyusul berdiri pabrik-pabrik gula lain. Mulai SF Ngoro (1840), SF Soekodono/Mojoagung (1846), dan SF Goedo (1857). Pada 1857 juga ditandai berdirinya industri lain selain sektor gula.
Yaitu pabrik penggilingan padi menjadi beras (rijstpellerij) skala besar. Pabrik perdagangan beras dan singkong pertama yang berdiri 1857, berada di Desa Tebel onderdistrict (kecamatan) Ngoro (selanjutnya masuk distrik Bareng).
Perusahaan ini bernama Naamloze Vennootschap (NV) Rijsthandel en Pellerij Tebel Ngoro. Jika sekarang, skala dan strata usaha NV setara dengan Perseroan Terbatas (PT).
NV Rijsthandel en Pellerij Tebel Ngoro selain berdagang beras, awalnya adalah mengolah singkong menjadi gaplek dan tepung tapioka (gaplekmeel). Pada tahun 1862 merambah juga pada produksi beras kupas.
Setahun kemudian, pada 1858 pabrik penggilingan padi kedua berdiri. NV Handel Mij. Bian Hong milik pengusaha Tionghoa yang didirikan di tepi jalan raya ‘Bok (brug) Miring’ Denanyar. Warga setempat lebih akrab menyebut pabrik pari atau selepan. Pabrik ini terkenal dengan cerobong kembar yang menjulang tinggi.
“Sampai tahun 1980-an, pabrik ini masih mampu bertahan dengan bisnis inti penggilingan padi menjadi beras,” lanjut Moch Faisol, penelusur sejarah Jombang yang rumahnya juga di Denanyar. Sayang, pasca reformasi seiring maraknya ‘huller’ keliling (mesin dos) ke desa-desa, pabrik ini kalah bersaing dan akhirnya meredup di tahun 2000-an.
Setelah mencoba memperluas usaha ke komoditi jagung dan ketela serta memperbarui mesin oven, tetap tidak mampu bertahan. “Sekitar sepuluh tahun lalu, benar-benar tutup total dan berhenti beroperasi. Bahkan akhirnya dijual oleh pemilik lama,” lanjut Faisol.
Setahun berikutnya, 1859, di Kademangan Mojoagung dibangun pabrik penggilingan padi “Hoo Siang” yang mengolah padi menjadi beras (bukan tepung). Lokasinya di tepi jalan raya Mojoagung-Mojokerto, tepat di sebelah barat stasiun OJS (Oost-Java Stoomtram Maatschappij), selatan jalan.
Kemudian berdiri pula NV Bouw en Handel Maatschappij Koen Kie yang juga dimiliki oleh pengusaha Tionghoa. Perusahan penggilingan padi yang mengolah menjadi beras ini berada di tengah kota.
Tepatnya di jalan raya Heerenstraat (selatan Ringin Contong sebelah timur jalan). Bedanya dengan pabrik Hoo Siang, Kademangan yang ada cerobongnya, pabrik Koen Kie tidak memakai cerobong asap.
Selanjutnya berturut-turut pabrik penggilngan padi Liem Hok Jong & Co di Peterongan berdiri 1861 dan Tjioe Yan Siang di Desa Ngelo, Ploso tahun 1863. Terakhir, berdiri pabrik penggilingan padi Tjoekir 1864 yang terletak di sebelah barat Jl Raya Cukir. Pabrik cukup luas ini memiliki satu cerobong asap di sebelah utara.
“Sebagai pengembangan usaha, pada 1865 NV Handel Mij. Bian Hong Denanyar membuka unit usaha baru berupa minyak kelapa (klapperoil),” pungkasnya. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW